BeritaLifestyle

Dedi Azwar: Dari Tato ke Shading Alis

SIANTAR, FaseBerita.ID – Pria asal Kota Sibolga ini mengaku betah menetap di Kota Pematangsiantar. Apalagi di kota dengan motto Sapangambei Manoktok Hitei ini, Dedi Azwar menemukan passion dirinya, yakni menjadikan hobi melukis-nya sebagai profesi.

 

Diakui pria berusia 34 tahun ini, sejak kecil ia memang hobi melukis. Ia kerap meraih juara di berbagai lomba melukis di Kota Sibolga. Hal itu pula yang membuat dirinya selalu memeroleh beasiswa saat duduk di bangku SD dan SMP.

Padahal, kata dia, dia bukan berasal dari keluarga seniman. Orangtuanya merupakan pengusaha, dan berharap lima putranya mengikuti jejak menjadi pengusaha. Sehingga sempat timbul perbedaan pendapat antara Dedi dengan ayahnya.

“Orangtua ingin saya juga menjadi pengusaha. Padahal saya lebih suka di seni. Tapi abang mendukung saya. Dia hanya bilang, kalau memang ingin di bidang seni, harus fokus, jangan setengah-setengah,” tukas anak kedua dari lima bersaudara ini.

Tak mendapat dukungan dari orangtua, khususnya sang ayah, Dedi memilih merantau. Pilihannya, Kota Pematangsiantar. Meski terkadang ia berkeliling ke daerah dan kota lainnya, namun selalu kembali ke Pematangsiantar. Apalagi kemudian ia menemukan tambatan hati di kota berhawa sejuk ini.

Setelah melihat Dedi bisa survive dengan pilihannya, hati sang ayah luluh. Ia mendukung pilihan hidup Dedi, bahkan menawarkan bantuan apa yang dibutuhkan Dedi.

“Istri saya orang Siantar. Namanya Haryati Sihite. Tapi dia bukan orang seni. Pendidikannya bidang perhotelan,” sebut Dedi yang menikah tiga tahun lalu itu.

Kota Pematangsiantar, lanjutnya, sangat bersahabat. Lingkungannya nyaman, orang-orangnya baik, modern tetapi tidak macet, serta makanannya enak dengan harga terjangkau.

Masih menurut Dedi, setelah beranjak dewasa ia beralih dari melukis di kertas  ke tubuh manusia. Ya, Dedi melukis tato. Ia merasa, tato penuh dengan seni.

“Saya terinspirasi dengan Jack Bandit Tato. Saya pun mulai belajar tato,” ujar Dedi yang mengaku sempat bergabung di komunitas anak Punk, tapi tidak berandalan.

Diakui Dedi, untuk melukis tato, harus penuh penjiwaan. Tidak bisa sekadar melukis begitu saja. Dengan kata lain, sambung Dedi, seni itu berasal dari hati dan jiwa.

Selanjutnya, Dedi justru tertarik dengan shading alis dan sulam bibir. Awalnya, ia belajar secara otodidak. Kemudian, ia banyak sharing dengan Make Up Artist (MUA) terkenal di Pematangsiantar, Indra MW.

Hingga kemudian, Dedi memilih fokus ke shading alis dan sulam bibir, dengan tidak meninggalkan tato.

“Istilahnya, tato jadi hobi. Klien-nya juga hanya dikalangan teman-teman. Kalau shading alis dan sulam bibir, ya klien-nya tentunya dari kalangan ibu-ibu,” ujar pria yang juga hobi bermusik, bahkan kini sesekali masih naik panggung.

Diterangkan Dedi, sebenarnya shading alis lebih rumit dibandingkan dengan melukis tato. Selain jenis tinta dan mesinnya beda, teknik penekanannya juga tak sama. Belum lagi, antara alis kanan dan kiri juga harus sesuai.

“Untuk penyesuaian saja, saya butuh waktu hingga lima tahun. Saya harus latihan terus, sampai ke mana-mana bawa pensil alis dan minta teman-teman mau jadi model saya,” jelas Dedi yang membuka jasa shading alis dan sulam bibir di rumahnya, Jalan Hokky No 7A, Kecamatan Siantar Barat.

Untuk jasa pengerjaan shading alis dan sulam bibir, diakui Dedi, sejauh ini belum bisa seperti di kota-kota lainnya. Ia belajar dari usaha-usaha yang survive di Pematangsiantar, yang tidak memasang harga atau tarif tinggi, tapi pelanggan bisa selalu ada dan ramai. Namun tetap mengutamakan kualitas.

“Bukan berarti asal-asalan. Hasil karya saya bisa bertahan selama tiga tahun. Dan rata-rata klien mengaku puas,” tandas Dedi yang selalu menggunakan alat-alat yang steril dan sekali pakai untuk masing-masing klien.

Dedi ingin terus fokus di shading alis dan sulam bibir. Ia pun tidak pernah berhenti belajar. Di malam hari, setelah selesai melayani klien, ia mencoba desain-desain baru.

“Ya bagaimana agar klien senang dan puas. Biasanya saya mengerjakan satu klien selama 30 menit. Untuk profesional, tak hanya butuh skill, tapi juga harus ditunjang alat-alat dan bahan yang berkualitas,” sebut Dedi yang ingin memiliki studio tato, shading alis, dan sulam bibir yang profesional. (awa/fe)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button