Berita

Cerita Imelda Purba, Istri Korban Pembunuhan di Jalan Cokro Pematangsiantar

Aku Peluk Dia di Boncengan Kreta, Rupanya itu Kenangan Terakhir

FaseBerita.ID – Raut kesedihan dan kelelahan terlihat jelas di wajah Imelda Margaretha Purba. Ia terduduk lesu di salah satu bangku di bagian depan ruang Forensik RSUD dr Dajasamen Saragih Pematangsiantar, Sabtu (28/9/2019). Ditemani beberapa keluarga dan kerabat, ibu dua anak itu menunggu jenazah suaminya, Viky Erwanto Damanik atau yang akrab dipanggil Uwan Damanik (35) sedang diotopsi.

Jika ada yang datang dan menyalaminya, tangis Melda langsung pecah.

“Baik kali suamiku itu. Nggak pernah dia jahat sama aku. Kok harus seperti ini dia pergi!” kata Melda berurai air mata.

Melda, menjelang tengah malam sebelum kejadian berdarah yang menghilangkan nyawa pria yang dikasihinya itu, suaminya pamit keluar rumah. Melda tahu, suaminya hendak ke Pasar Dwikora, Parluasan untuk mengantar pisang. Dua minggu terakhir, suaminya mulai menggeluti bisnis pisang.

“Pisang dikirim dari kampungnya di Merek Raya oleh adiknya. Dia yang menampung di sini, dan dijual ke pedagang pisang di Parluasan. Baru dua kali bisnis pisang ini dijalaninya, Jumat minggu lalu, dan Jumat minggu ini,” jelas Melda, yang mengaku sudah makan setelah selesai menjalani pemeriksaan di kantor polisi.

Masih didengar Melda kata-kata pamit dari suaminya. Tapi saat itu, Melda sudah tertidur bersama dua buah hatinya. Kebetulan, dalam beberapa terakhir putri bungsunya sakit, jadi Melda juga merasa lelah dan ingin tertidur.

Di bisnis pisang, suami Melda bekerja sama dengan teman akrabnya yang kebetulan tinggal di depan rumah mereka. Keduanya diketahui ke Parluasan mengantar pisang menggunakan becak barang.

Antara pukul 02.00-02.30 WIB, Melda mendengar pintu rumah kontrakannya di Jalan Pisang, Pematangsiantar diketuk dan ada yang memanggil-manggil. Melda mengenali suara pria yang memanggil-manggil, yakni teman bisnis suaminya yang juga tetangga mereka.

Melda yang mengenakan pakaian tidur segera bangun dan membuka pintu.

“Kak, ayo ke rumah sakit. Abang kena tikam,” kata teman suaminya itu.

Baca juga: Driver Gojek Tewas Ditikam saat Minum Bandrek

Melda yang baru bangun tidur, sempat bingung. Akhirnya ia mulai tersadar, suaminya dalam kondisi kritis. Segera ia berganti pakaian, menggendong putrinya yang masih tertidur dan mengantarnya ke rumah orangtuanya, tidak jauh dari kediaman Melda. Sementara putra sulungnya yang masih berusia lima tahun, yang ikut terjaga dini hari itu, memaksa ikut ke rumah sakit.

Naik mobil ambulans yang menjemputnya, Melda ke Rumah Sakit (RS) Vita Insani Pematangsiantar, di Jalan Merdeka. Masuk ke IGD, Melda melihat suaminya terkapar di salah satu tempat tidur, bersimbah darah.

Melda tertegun. Tidak menyangka, pria yang menikahinya hampir enam tahun lalu itu, dalam kondisi sangat menyedihkan.

Melda melihat langsung bekas luka tikaman di tubuh suaminya. Sekejap, Melda berdoa agar Tuhan menyelamatkan suaminya.

“Kulihat dia sempat seperti menggelepar. Waktu itu, aku anggap dia bakal selamat karena masih bergerak. Tapi sepertinya gerakan itu justru tanda dia mau meninggalkan aku,” terang Melda, dan kembali menangis.

Masih kata Melda, tak lama datang polisi ke rumah sakit. Melda pun diminta membuat laporan ke polisi. Demi mengikuti proses hukum, Melda yang sempat bekerja di bidang jurnalistik selama sekitar tujuh tahun itu, menurut.

Apalagi dia ingin kasus yang menimpa suaminya segera terungkap.

Melda, ditemani kerabat, mendatangi Polresta Pematangsiantar. Dia membuat laporan. Namun, kata Melda, polisi mengatakan ia baru akan diperiksa setelah proses pemakaman suaminya selesai. Melda disarankan pulang mengurus jenazah suaminya.

Diakui Melda, saat itu dia bingung. Sepengetahuannya, suaminya harus diotopsi terlebih dahulu sebagai salah satu syarat agar proses hukum bisa dilaksanakan. Hanya saja saat itu, tidak ada instruksi dari polisi.

Di tengah kebingungan, shock, panik, dan lainnya Melda kembali ke rumah sakit. Akhirnya jenazah suaminya diformalin karena rencananya dimakamkan keesokan harinya, Minggu (29/9/2019).

Setelah urusan di rumah sakit selesai, jenazah suaminya dan Melda sendiri menuju kampung mereka, di Buah Bolon, Kelurahan Merek Raya, Kabupaten Simalungun.

Di kampung, jenazah disemayamkan di rumah orangtua korban, atau mertua Melda.

Namun beberapa jam kemudian, Melda dihubungi dan diminta datang ke Polresta Pematangsiantar untuk dimintai keterangan. Melda yang saat itu tengah menangisi jenazah suaminya bersama kedua anaknya, makin bingung.

Baca juga: Istri Korban Penikaman: “Suami Saya Orang Baik Tidak Ada Musuh”

“Tadi katanya habis pemakaman aku diperiksa. Udah di kampung, disuruh balik ke Siantar. Tapi udah lah, aku ikuti aja. Satu harapanku, pelakunya cepat ditangkap,” tukas alumni SMA Negeri 1 Pematangsiantar itu.

Ditemani kerabat, Melda kembali ke Pematangsiantar. Ia menuju Polres Pematangsiantar dan menjalani pemeriksaan. Hingga kemudian, polisi mengatakan jenazah suaminya harus diotopsi.

Melda yang sudah benar-benar letih, hanya mengiyakan. Jenazah suaminya dijemput dari rumah duka. Saat ada kerabat yang protes, Melda berusaha menjelaskan itu demi jalannya proses hukum. Melda pun sabar menunggu jenazah suaminya diotopsi.

“Sedih kali aku. Pas di rumah sakit, Nuel (Immanuel Damanik, putra sulungnya, red) melihat bapaknya berdarah-darah. Dia tanya kenapa bapak. Kujawab, bapak lagi sakit,” ujar Melda, seraya menghapus air mata di pipinya menggunakan selembar kain yang terselempang di bahunya.

Baca juga: Sempat Disemayamkan, Korban Penikaman Akhirnya Diotopsi

Nuel yang masih bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK) kata Melda, sudah paham bapaknya meninggal dunia.

“Udah meninggal bapak, udah nggak ada lagi bapak. Nggak ada lagi yang main-main sama kami. Nggak ada lagi temanku belajar, yang antar ke sekolah,” jelas Melda menirukan kata-kata putranya.

Diakui Melda, selama ini anak-anak merekanl lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan dengan dirinya sebagai ibu.

“Dekat kali dia sama anak-anak. Anak-anak menurut sama dia. Kalau aku yang ngomong, anak-anak nggak pernah dengar,” tandas Melda yang kini membuka usaha konveksi di rumah.

“Sejak nggak kerja lagi, aku kursus menjahit dan sekarang terima pesanan jahitan,” tambah Melda seraya menambahkan, suaminya yang sempat bekerja sebagai karyawan koperasi simpan pinjam, kini sudah membuka usaha koperasi sendiri.

“Karena sudah usaha sendiri, jadi dia nggak terikat waktu kerjanya. Waktu luangnya pun banyak. Makanya dia bisnis pisang,” sebut Melda, dan mengatakan suaminya sudah tidak menjadi driver ojek online sejak beberapa bulan lalu karena diputus kemitraannya oleh pihak perusahaan.

Baca juga: Ciri-ciri Pelaku Penikaman, Ada Bekas Luka di Mata Kiri

Melda mengaku tidak ada firasat sebelum suaminya mengalami kejadian mengerikan. Hanya saja, Jumat (27/9/2019) setelah suaminya menjemput pisang yang dikirim dari Raya di salah satu halte bus, mereka mulai mengurus pisang-pisang itu di rumah. Melalui media sosial dan pesan WA Melda pun menawarkan pisang-pisang itu ke teman-temannya

Dilanjutkan Melda, ada beberapa pesanan pisang yang masuk. Yang dekat-dekat rumah, Melda sendiri yang mengantar dengan mengendarai sepedamotor. Sedangkan pesanan dari lokasi yang agak jauh dan dalam jumlah cukup banyak, Melda dan suaminya sama-sama mengantar.

Siang itu, keduanya berboncengan sepedamotor, plus anaknya Nuel, mengantar pesanan pisang yang cukup banyak dan jauh. Nuel berdiri di bagian depan sepedamotor metic mereka. Melda memegang pisang pesanan di boncengan, dan suaminya mengendarai sepedamotor.

Setelah seluruh pesanan pisang diantar, kata Melda, praktis tangannya bebas dan dia tak berjarak dengan suaminya di jok sepedamotor.

“Selama ini kalau kami bepergian naik kreta, ada Elsa (putri bungsunya, red) duduk di tengah, di antara kami. Tapi saat itu, nggak ada Elsa di tengah, dan pisang sudah semua diantar. Di sepanjang jalan, kedua tanganku memeluk suamiku dari belakang,” terang Melda.

“Udah lama kali nggak kupeluk suamiku dari belakang kayak gini. Enak kali rupanya memeluk suami kayak gini,” kata Melda dalam hati saat itu, yang sama sekali tidak menyangka itu kenangan terakhirnya bersama sang suami tercinta.

Di jalan menuju rumah, sambung Melda, mereka sempat membeli es di pinggir jalan. Lalu kembali menuju rumah mereka, dengan posisi Melda tetap memeluk suaminya dari belakang. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close