Berita

BNN Tes Urine Pegawai Lapas Sibolga

FaseBerita.ID – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tapanuli Selatan melakukan tes urine terhadap pegawai Lapas kelas IIA Sibolga, Jumat (8/11/2019) lalu. Selain untuk menunjukkan komitmen memerangi narkoba, Lapas Kelas IIA Sibolga juga ingin menepis tudingan yang ada di tengah-tengah masyarakat, bahwa mereka terlibat dalam peredaran narkoba di dalam Lapas.

Hal itu dikatakan Kepala Lapas Kelas IIA Sibolga Mulyadi di sela-sela kegiatan, didampingi Kepala Seksi Rehabilitasi BNN Tapsel H Ibrahim Harahap. Katanya, pihaknya telah berkomitmen sejak awal, untuk memerangi dan mencegah narkoba masuk ke penjara. “Kita telah berkomitmen dari awal jangan sampai hal itu terjadi.

Walaupun ada selalu berita miring, kesannya Lapas ini selalu bekap narkoba. Nah, sekarang kita tunjukkan, kami mengudang BNN, kita perlihatkan bahwa pegawai kami sudah berkomitmen untuk bersih dari narkoba. Jadi, dimulai dari pegawainya dulu. Bagaimana kita mau nyuruh warga binaan kalau pegawainya sudah kena. Kalau sudah bersih, kan enak kita nyuruh,” kata Mulyadi dalam keterangan persnya.

Sekilas, orang nomor satu di Lapas Kelas IIA Sibolga tersebut menjelaskan upaya yang telah mereka lakukan dalam pencegahan narkoba masuk ke dalam Lapas. Satunya dengan pemeriksaan ketat terhadap pengunjung.

“Jangan sampai ada berita di luar tentang temuan narkoba, bilangnya dapat dari Lapas. Delapan puluh persen penghuni yang berada dalam lapas, terjerat kasus narkoba. Sisanya 20 persen terlibat kasus pidana umum. Tentunya sesuai dengan SOP yang ada, mulai dari luar, setiap mengujung yang hendak bertamu, digeledah. Baik barang bawaan, maupun pemeriksaan badan,” terangnya.

Meski demikian, Mulyadi tidak menampik keterbatasan mereka terhadap upaya tersebut. Dia menyebut satu di antaranya, karena tidak adanya peralatan canggih yang mempu mendeteksi benda mencurigakan yang dibawa pengunjung masuk ke Lapas.

“Barang itu kan kecil, kadang-kadang kita tidak bisa mengantisipasi barang yang kecil itu. Seperti apa kita bisa deteksi. Kemudian yang berada di Lapas 1.206 orang (napi), hampir 900 di antaranya terkait kasus narkoba. Baik pemakai, pengedar dan kategori bandar dilihat dari hukumnya tinggi,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Mulyadi juga menantang siapa saja yang dapat membuktikan keterlibatan pihaknya dalam peredaran Narkoba di Sibolga-Tapteg dan sekitarnya, untuk segera melapor ke pihak kepolisian. Dan dirinya sebagai pimpinan juga akan memberikan sanksi tegas terhadap anggotanya yang ikut terlibat dengan peredaran barang haram tersebut.

“Bisa dibuktikan enggak. Seperti yang saya katakan tadi, kami tidak memiliki alat deteksi yang canggih. Benda-benda itu kan kecil. Kalau dari pegawai kita berkomitmen bersama, tidak ada pegawai yang menjadi pengkhianat. Kalau ada pegawai yang menjadi pengkhianat, dengan memasukan handphone dan sebagainya, kita langsung kirim ke Kanwil (Kantor wilayah) untuk dibina. Ngapain di sini, kalau tak bantu kita. Ya, harus kita proses,” tegas Mulyadi.

Terkait tes urine yang dilakukan BNN, Mulyadi menyebut, bukan hanya stafnya yang dilakukan tes urine, melainkan juga napi. Dengan pirincian, 57 warga binaan dan 35 pegawai Lapas. Bila hasilnya ada napi yang positif sebagai pemakai narkoba dan ditemukan barang bukti, pihaknya akan segera melimpahkannya ke pihak kepolisian.

“Kalau ada terbukti warga binaan dalam test urine positif narkoba, selagi tidak ditemukan barang bukti, akan diserahkan ke medis untuk direhab. Kalau ditemukan barang bukti, akan diserahkan kepada pihak kepolisian,” tegasnya.

Sementara, Ibrahim, Kasi Rehabilitas BNN Tapsel kepada wartawan mengaku belum dapat menginformasikan hasil dari pemeriksaan urine yang telah mereka lakukan. Karena menurutnya, hasil tes akan diserahkan kepada Kalapas sebagai penanggungjawab Lapas Kelas IIA Sibolga. (ts)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close