Berita

Bincang-Bincang dengan ‘The First Lady Siantar’ Syahputri Hefriansyah Hutabarat

Ramah dan bersahaja. Demikian kesan yang terlihat dalam diri Syahputri Hefriansyah Hutabarat, istri Walikota Pematangsiantar Hefriansyah. Mengenakan blouse batik hijau dipadu celana panjang hitam plus jilbab hijau, penampilan ibu empat anak itu jauh dari kesan istri pejabat.

EVA WAHYUNI, Pematangsiantar

“Sejak bapak dilantik jadi Wakil Walikota, dan kemudian menjadi Walikota Siantar, kehidupan kami tidak banyak berubah. Ya biasa saja. Paling yang berubah aktivitas saya dan bapak yang makin banyak,” terang Syahputri yang mendampingi Hefriansyah sejak tahun 2003 lalu.

Putri, demikian ia biasa disapa, meski menjadi pendamping orang nomor satu di Kota Pematangsiantar saat ini, tetaplah seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Kesehariannya, nyaris sama dengan ibu-ibu lainnya.  Mengurus suami, anak-anak, dan rumah.

Setiap pagi, ia sudah bangun sejak pukul 04.00 WIB. Begitu azan Subuh berkumandang, Putri mulai membangunkan anak-anaknya. Kebetulan, saat ini yang di rumah hanya tiga dari empat anaknya.

“Yang sulung, perempuan kebetulan sudah sekolah berasrama di Bogor,” tukas sulung dari empat bersaudara, buah hati pasangan suami istri Syafri Hutabarat dan Efni Erika ini.

Setelah anak-anak bersiap ke sekolah dan sarapan, Putri pun mengantar mereka ke sekolah masing-masing. Bukan naik mobil, melainkan naik sepedamotor.

“Kadang ayahnya (Hefriansyah, red) yang mengantar, naik sepedamotor. Kalau ayahnya sibuk, ya saya yang mengantar,” katanya.

Sempat, sambungnya, anak-anak diantar pekerja di rumah naik sepedamotor. Namun kemudian, Putri dan Hefriansyah sepakat, agar merekalah yang bergantian mengantar anak-anak ke sekolah. Alasannya, agar mereka tetap dekat dengan anak-anak di tengah kesibukan dengan aktivitas sehari-hari.

“Kecuali hujan, barulah naik mobil. Kalau pulang sekolah, supir yang menjemput karena saya dan bapak lebih sering sudah sibuk beraktivitas,” tukas alumni SD, SMP, dan SMA Yayasan Perguruan Sultan Agung Pematangsiantar itu.

Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Siantar Selatan ini, di malam hari ia berusaha menemani dan mendampingi anak-anaknya belajar di malam hari setelah makan malam bersama. Kebetulan, katanya, di hari sekolah, setelah salat Magrib, televisi di rumah sama sekali tidak dinyalakan. Sehingga setelah belajar, anak-anak membaca buku.

“Mereka bisa menonton televisi di waktu sore. Kalau malam, sama sekali televisi tidak menyala. Kebetulan, anak-anak saya hobi membaca. Jadi mereka masuk kamar dan membaca,” jelas penyandang gelar Sarjana Hukum Islam dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samora Pematangsiantar ini.

Sebagai istri walikota, secara otomatis tentunya Putri menjabat Ketua Tim Penggerak (TP) PKK, sesuatu yang sangat baru baginya. Di awal-awal menjabat, Putri masih mengikuti alur yang sudah berjalan selama ini. Namun setelah memasuki tahun anggaran baru, ia mulai melakukan gebrakan. Ia ingin organisasi yang dipimpinnya menarik dan tak sekadar ajang kumpul ibu-ibu.

“Saya membiasakan diri selalu berdiskusi dengan mereka. Saya tidak mau arogan. Ibu-ibu harus bisa lebih kreatif dan berkarya,” terang Putri.

Putri, juga berusaha mensupport Ketua TP PKK Kelurahan untuk berani maju dan mampu berbicara di depan umum. Dia selalu mengatakan, mereka pasti bisa.  Sebab ia sendiri sudah mengalaminya.

“Saya orang yang bekerja di balik meja, menulis dan membuat laporan. Saat saya bertugas sebagai tata usaha di salah satu sekolah, pernah ada guru yang tidak datang, lalu murid-murid ribut di kelas. Saya masuk kelas ingin menenangkan mereka, eh saya grogi,” tukasnya.

Nah, setelah menjabat Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar, mau tidak mau, Putri dituntut bisa berbicara di depan publik dalam berbagai kesempatan. Meski saat kali pertama ia merasa panas dingin, namun kemudian bisa menguasai forum.

“Kata sambutan tidak perlu panjang-panjang. Orang bisa bosan. Kita pahami dan ambil intinya. Trik itulah yang saya sampaikan kepada anggota PKK lainnya. Dan ternyata berhasil. Mereka sudah percaya diri berbicara di depan orang banyak,” katanya.

Meski menjadi istri pejabat nomor satu di Kota Pematangsiantar, namun Putri tetap hidup sederhana. Jabatan yang diemban suami tidak lantas membuatnya mabuk kemewahan dan menjadi hobi belanja badang-barang bermerek terkenal (branded).

Kebiasaan lain yang tidak berubah, ternyata Putri masih suka belanja di pasar tradisional, baik Pasar Dwikora maupun Pasar Horas.

“Pakaian saya biasa aja. Pakai celana training, baju lengan panjang, dan hijab. Tanpa bedak, apalagi make up. Saya belanja seperti ibu-ibu lainnya, ikan, sayur, cabai, dan lainnya. Juga barang-barang yang kering, ada beras, minyak. Ya begitulah,” sebut Putri yang mengaku saat berbelanja biasanya para pedagang langsung banyak yang menawarkan dagangannya.

“Ada yang minta pisangnya dibeli, ubi, banyaklah. Seru. Kalau saya lama tidak ke pasar karena banyak kegiatan, begitu saya datang, banyak pedagang protes,” cerita Putri.

Jalan Santai Hari Ibu

Menjelang peringatan Hari Ibu tahun 2019, TP PKK Pematangsiantar di bawah kepemimpinan Putri akan menggelar jalan santai, Minggu (8/12). Kegiatan itu, menurut Putri merupakan instruksi dari Ketua TP PKK pusat.

Diakui Putri, kegiatan jalan santai bersamaan dengan agenda Car Free Day di Jalan Merdeka, yang digelar setiap Minggu pagi.

“Rutenya juga nggak jauh-jauh. Dari depan kantor walikota, masuk Jalan Diponegoro, ke Jalan Sutomo, dan kembali ke depan kantor walikota,” kata Putri.

Lantas, apa makna seorang ibu bagi Putri?

“Ibu itu predikat yang sangat mulia bagi seorang perempuan,” tukasnya.

Seorang perempuan, sambungnya, bisa menjadi seorang ibu, sekaligus sebagai ayah. Tapi seorang ayah, belum tentu mampu sekaligus menjadi seorang ibu,” sambung Putri yang mengaku setiap hari pekerjaan seorang ibu tidak ada habisnya.

Menurut Putri, seorang ibu pasti memahami yang sedang terjadi pada anak-anaknya. Hal itu sudah dirasakan Putri sendiri.

“Meskipun saya tidak pernah menceritakan kesedihan saya kepada ibu saya, tapi Beliau selalu tau apa yang sedang saya rasakan. Ibu saya itu, wanita luar biasa yang sudah menjadikan saya sebagai seorang ibu,” jelas Putri yang dipanggil dengan sebutan “ibu” oleh keempat anaknya. (*)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button