Berita

Belasan Pria Rusak Rumah Sekaligus Warung di Tanjung Dolok

FaseBerita.ID – Kondisi hujan sedang turun deras, Rabu (9/10/2019) sekira Pukul 12.00 WIB, di Huta Tanjung Dolok, Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun, belasan pria yang sebagian masih remaja, mendatangi rumah sekaligus warung yang ditempati Nurfa Yuswinda (45).

Para pria bersenjata linggis, cangkul, parang dan tali itu langsung mengetuk rumah dan masuk ke dalam. Beberapa orang mengucap kata kasar. Seorang pria yang belakangan diketahui berprofesi sebagai advokat berinisil RS, berteriak memerintah untuk membongkar rumah tersebut, karena sudah sah milik SS.

“Bongkar rumahnya ini. Sudah sah milik SS, itu diantara teriakan pria berinisial RS,” kata Nurfa Yuswinda bercerita, Senin (14/10/2019) di Kota Pematangsiantar.

Didampingi praktisi hukum Netty Simbolon, Nurfa Yuswinda menjelaskan kronologis kejadian yang membuat dirinya dan dua pekerja rumah makannya trauma dan harus terpaksa tinggal di tenda di sekitar rumah semi permanen yang dibangunnya tahun 2011 lalu itu. Setelah belasan pria masuk ke rumah, dirinya langsung menuju Polsek Parapat untuk melaporkan sekaligus meminta perlindungan. Namun saat dia kembali, dan disusul oleh personel Polsek Parapat, kondisi rumah sudah nyaris rata dengan tanah. Atap, dingding kayu serta perabot rumah sudah berantakan serta rusak parah.

“Sepeninggalan saya, bangunan rumah langsung mereka rusak. Mereka menggunakan tali untuk menarik atap rumah. Mirip seperti acara bedah rumah di tv lah. Ngeri kali lah memang,” katanya.

“Pada tahun 2011 saya bertemu SS yang mengaku sebagai pemilik lahan. Kemudian atas kesepakatan, saya diizinkan membangun rumah yang akan kugunakan sebagai tempat usaha. Kemudian kepada SS saya membayar sewa sekitar Rp3 juta per tahun,” kata Nurfa Yuswinda.

Dijelaskan Nurfa, dirinya sebelumnya tidak ada masalah dengan SS, yang mengaku pemilik tanah. Namun sekitar April 2019, SS memagar lokasi yang dijadikan rumah dan tempat usaha dengan menggunakan seng serta kawat duri. Saat itu sewa yang diberikan tahun sebelumnya berakhir Mei 2019.

Kondisi ini kemudian disampaikan kepada pihak Pemerintah Nagori Tanjung Dolok yang kemudian berkembang ke Polsek Parapat, serta pihak Perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara yang berkantor di Jalan Simanuk-manuk Pematangsiantar. Dalam mediasi yang digelar di Polsek Parapat, yang juga dihadiri Pangulu Tanjung Dolok, pihak kehutanan menegaskan bahwa kawasan yang ditempati Nurfa adalah kawasan hutan.

Akhirnya diketahui bahwa tanah yang ditempati Nurfa, merupakan areal hutan. Berkat permohonan Nurfa, akhirnya petugas secara lisan mengijinkan tetap tinggal dengan catatan tidak membakar serta menebang kayu hutan.

“Kami tinggal di kawasan hutan. Bangunan itu saya yang membangun. Kami benar-benar diintimidasi, bahkan ada surat somasi dan pengumunan dari SS dan kuasa hukumnya yang menyatakan tanah tersebut milik SS. Andai pun itu tanahnya, tidak semestinya mereka melakukan pengerusakan,” kata Nurfa.

Nurfa mengaku sangat kecewa dengan tindakan para pria yang langsung dipimpin oleh pria yang disebut-sebut kuasa hukum SS.

“Tindakannya mirip preman. Dimana pun namanya pengerusakan tidak dibenarkan hukum. Apalagi ini menyangkut bangunan rumah yang memang saya bangun. Saya berharap hukum ditegakkan,” katanya.

Atas tindakan belasan pria tersebut, Nurfa melapor ke Polres Simalungun serta mengadukan oknum RS ke lembaga yang menaunginya. (esa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button