Berita

Banjir Melanda Tapteng, Psp dan Tapsel: 8 Meninggal, 700 KK Mengungsi

FaseBerita.ID – Hujan deras yang terjadi di wilayah Sumut termasuk Siantar pada Selasa (28/1) malam mengakibatkan sejumlah daerah seperti Tapteng, Padangsidimpuan (Psp) dan Tapsel, mengalami banjir dan longsor. Akibat bencana itu 8 orang meninggal dan sekitar 700-an KK mengungsi. Namun khususnya Siantar masih aman dan terkendali.

“Banjir terjadi di Kecamatan Barus, Andam Dewi, Kolang, Pastob, Sorkam, Sarudik dan Batara. Untuk longsor di Andam Dewi dan Sitahuis,” ujar Kepala BPBD Tapteng Safaruddin Ananda Nasution, Rabu (29/1).

Menurut Ananda, lokasi yang paling terdampak banjir yaitu di Kecamatan Barus. Di sana, ada tujuh titik banjir yang terjadi. “Di antaranya Desa Kampung Mudik terendam banjir setinggi 2 meter, Desa Pasar Terandam terkena luapan air Sungai Aek Sirahar dan mengakibatkan banjir dan terendamnya pemukiman setinggi 2,5 meter,” jelasnya.

Kemudian Desa Bungo Tanjung terendam banjir setinggi 2 meter, Desa Kinali terendam banjir setinggi 2 meter, Desa Ujung Batu terendam banjir setinggi 2 meter.

“lalu Kelurahan Batu Gerigis terendam banjir setinggi 2 meter dan Kelurahan Padang Masiang terendam banjir setinggi 2 meter juga,” sebutnya.

Atas peristiwa itu, lanjut Ananda, pihaknya langsung mengerahkan personelnya sebanyak 70 orang terjun ke lokasi bencana dan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. “Bersama unsur terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan Basarnas turun ke lapangan,” katanya.

Atas peristiwa itu, masih kata Ananda, sebanyak 700 Kepala Keluarga (KK) harus mengungsi. Dan kini pihaknya pun telah mendirikan tenda pengungsian di lokasi tersebut.

“Pengungsi 700 KK, BPBD Tapteng telah mendirikan tenda pengungsian dan melakukan evakuasi kepada korban banjir ke posko pengungsian. Dinas Sosial telah membuka dapur umum, Dinas Kesehatan melakukan pengobatan terhadap korban luka 22 orang, Basarnas sedang melakukan pencarian terhadap korban hilang,” tuturnya.

Ananda menuturkan, untuk data korban tewas yang dihimpun hingga Rabu (29/1) siang, ada dua warga yang dilaporkan meninggal dunia. “Korban meninggal atas nama Adwirzah Tanjung (60) dan Idwarnisa (58) warga Kelurahan Padang Masiang, Kecamatan Barus. Tim masih lanjut berkoordinasi dengan Kepala Desa Sijukkang untuk menyisir dugaan ada korban lain yang tertimbun akibat longsor dan banjir,” sebut Ananda.

4 Warga Andam Dewi Tewas

Di Kecamatan Andam Dewi, hujan deras mengakibat longsor dan arus sungai meluap. Akibat kejadian, empat orang dikabarkan meninggal dunia akibat tertimpa longsor dan satu orang hanyut di Desa Sijungkang.

Kondisi rumah yang terendam banjir dan luapan drainase pasca hujan Selasa (28/1) sore kemarin.

Camat Andam Dewi, Demsi Limbong saat dikonfrimasi melalui telepon selulernya kemarin membenarkan adanya warganya yang meninggal dunia tersebut.

Menurutnya, keempat korban yang tertimbun longsor dan dinyatakan meninggal dunia adalah Abdul Rahman Simanjuntak (72) Warga Kecamatan Manduamas, Lesman Marpaung (57) warga Pakkat, Pardamean Manalu (90) warga Desa Bonandolok Sijungkang, dan Juster Pane(50), juga warga Desa Bonandolok Sijungkang, Kecamatan Andam Dewi.

Disebutkan, bencana alam tersebut diakibatkan hujan deras yang mengguyur Andam Dewi kurang lebih empat jam lamanya. Bahkan akibat kejadian, ada seorang warga kecamatan tersebut yang dikabarkan hanyut terseret air.

Hingga kemarin sore, Tim Sar Gabungan dibantu masyarakat masih mengupayakan penyelamatan korban yang masih berada dalam reruntuhan bangunan. Kondisi di lokasi kejadian, cuaca masih mendung dan aliran listrik padam.

Terseret 50 Meter

Sementara di sejumlah tempat di Psp dan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) juga mengalami hal serupa. Di Psp, banjir juga menelan satu korban jiwa, puluhan rumah dan satu sekolah terendam. Begitu juga di Tapsel. Ada ratusan rumah terendam dan murid sekolah diliburkan.

Data Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Padangsidimpuan menyebutkan, selain di Desa Goti, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, ada empat titik yang mengalami banjir. Di antaranya Jalan Sudirman Sadabuan, Jalan Sibaganding Harahap Sadabuan, Jalan Kapten Koima Kelurahan Wek I dan Jalan Serma Lian Kasong. Keempat lokasi ini berada di Kecamatan Padangsidimpuan Utara.

Selain itu ada satu korban jiwa yang terseret arus air di parit tepatnya di Kelurahan Palopat Maria, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru dan satu pohon tumbang di kawasan  Tanggal, Kelurahan Sitamiang, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan.

Seluruhnya ada 30 rumah dan satu bangunan sekolah. Sekolah itu SDN 200118 Sadabuan. Air datang dari parit depan sekolah yang meluap hingga ketinggian pinggang dewasa diukur dari halaman sekolah. Bahkan luapannya juga menumbangkan tembok sekolah dengan ketinggian dua meter dan lebar tiga meter. Rumah-rumah sekitaran sekolah ini juga turut terendam.

Rabu (29/1) kemarin, para siswa di sekolah ini dipulangkan, karena kondisi peralatan dan mobiler di sekolah yang basah pasca terendam luapan parit yang bermuara ke sungai Aek Sibontar itu.

Banjir juga melanda pemukiman dan rumah-rumah warga di berbagai tempat. Seperti di Jalan Topi (Kapten Koima) Lingkungan II, Kelurahan Wek I, Kecamatan Padangsidimpuan Utara.

Banjir itu lebih disebabkan drainase dan parit di pinggiran Jalan Kapten Koima yang tak lagi mampu menampung debit air yang mengalir. Dan kemudian meluap, hingga sampai ke rumah-rumah warga.

Yang ketinggiannya lebih rendah dari pada badan jalan. Namun tak hanya itu, sungai-sungai kecil juga meluap. Seperti sungai Aek Sangkumpal Bonang, menambah debit genangan, dengan ketinggian hingga mencapai paha orang dewasa.

Seperti rumah Elvion Pasaribu yang berada di pinggiran Sungai Aek Sangkumpal Bonang. Kondisi badan sungai itu sendiri saat ini telah di-dek, berbentuk parit dengan lebar satu setengah meter dan tinggi mencapi dua meter. Namun saat meluap, air dari sungai ini sampai melebar hingga menggenangi daratan, termasuk rumah warga dengan radius 5 meter dari bibir sungai.

Musibah ini kemudian menghanyutkan beberapa perkakas rumah tangga dan sejumlah hewan ternak milik Elvion Pasaribu, dan menggenani lantai rumahnya yang berbentuk panggung itu.

“Setiap penghujan sering begini. Kalau ini tadi hanyut peralatan dapur, sama ayam. Tapi masih dicariin,” kata istri Elvion yang tengah sibuk mengeringkan lantai rumah panggung yang ditinggali 10 anggota keluarganya itu.

Masih di lingkungan yang sama, ada tiga rumah permanen yang tergenang dan ini lebih disebabkan luberan air dari parit pinggir jalan, yang tak sanggup menampung debit air hujan.

Tiga rumah itu masing-masing milik keluarga Alamsyah, Alam Sari Sikumbang dan Nasaruddin. Juga berada di pinggir Aek Sangkumpal Bonang, dan datarannya lebih rendah dari badan Jalan Kapten Koima. Dengan elevasi mencapai dua meter.

“Asal hujan, kami harus selalu ke luar mencari tempat yang lebih tinggi,” kata Alam Sari, yang juga sibuk mengevakuasi barang-barang yang telah basah tergenang air.

Kepala Lingkungan II Kelurahan Wek II, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Ridwan Lubis berharap, pemerintah segera memperbaiki parit jalan yang saat ini kondisinya semakin sempit terlebih di dalamnya telah dipasangi pipa PDAM.

“Ini paritnya masih model bangunan jepang. Kalau dalam, memang dalam. Tapi ada pipa PDAM di dalam jadi sempit. Apalagi ini airnya masuk dari Kampung Salak kemari, maunya di ujung sana dijebol saja terus dialirkan terus sepanjang Kapten Koima ini,” katanya menunjuk jalur parit yang mentok dan kemudian menikung ke arah Jalan Tonga (Ahmad Dahlan).

Jika hujan, air selalu meluber di jalan ini dan disertai sampah-sampah plastik dan kemasan minuman.

Diduga mengalami penyakit, seorang perempuan berusia 34 tahun tewas setelah tergelincir dan terseret air parit, di Kelurahan Palopat Maria, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru, Selasa (28/1) sore.

Informasi dihimpun, wanita tersebut diketahui bernama Emmy Rosmalina Siregar (34) warga Lingkungan 2, Palopat Maria, Padangsidimpuan Hutaimbaru. Emmy ditemukan tewas, setelah tergelincir ke dalam aliran parit dan terseret arus sejauh 50 meter.

“Korban memang ada menderita penyakit (ayan air), dan kebetulan saat itu hujan deras. Kondisi air parit sedang tinggi dan deras. Korban tergelincir ke parit,” kata Camat Padangsidimpuan Hutaimbaru Sayyidiman Pulungan.

Kata Camat, informai yang ia dapat dari masyarakat, sewaktu korban hanyut diduga kepala korban berbenturan dan membuat kondisi korban lemah. “Tidak bisa diselamatkan, kondisi korban juga memang lemah,” ujar Sayyidiman.

Atas kejadian tersebut, jenazah korban sudah diserahkan ke pihak keluarga dan disemayamkan di rumah duka. (dh/tam/san)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button