Berita

Bakhtiar: Usir Bandar Narkoba dari Tapteng

TAPTENG, FaseBerita.ID – Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Bakhtiar Ahmad Sibarani nyatakan bila takut memerangi narkoba, maka sama saja membiarkan putusnya masa depan generasi bangsa.

Hal itu disampaikan Bupati Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani kepada para awak media baru-baru ini, mengingat getolnya dirinya untuk memberantas narkoba hingga mengintruksikan Desa dan Kelurahan membuat peraturan terhadap pengguna dan bandar narkoba yang ketahuan di wilayah Tapteng.

“Saya pun ada yang menasehati saya, hati-hati adinda, hati-hati diambil di jalan, ini bandar narkoba. Kalau kita takut sama bandar narkoba, ya mampuslah masyarakat ini semua, putuslah generasi bangsa, anak muda bangsa,” ujar Bakhtiar.

Selain narkoba telah merusak sendi-sendi bangsa, lanjut Bakhtiar, menurutnya Rp360 miliar uang di Tapanuli Tengah diperkirakan hilang ke bandar narkoba.

“Sekarang ada yang tidak kita ketahui, secara mudah dicerna, dihitung dengan matematika, tapi terjadi di Tapanuli Tengah. Hari ini ada 20 Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, hampir rata-rata di kecamatan ada pengguna narkoba,” katanya.

“Kalau ada 350 ribu penduduk, 211 ribu dewasa, kalau ada 10 ribu orang yang kena narkoba, kali 100 ribu 1 hari, Rp1 miliar 1 hari, Rp30 miliar 1 bulan, Rp360 miliar 1 tahun ekonomi hancur akibat narkoba,” ucap Bakhtiar.

Sementara terkait Perdes tentang pengguna dan bandar narkoba bila ketahuan maka akan diusir. Yang nyata merusak bangsa, merusak ekonomi bangsa, merusak generasi bangsa menurutnya layak diusir bila ketahuan.

“Yang jelas begini, mengapa begu ganjang diusir? Begunya entah dimana, ganjangnya entah dimana diusir, hanya gara-gara nengok celana dalamnya ditengoknya diusir dari kampung itu. Hari ini narkoba nyata merusak bangsa, merusak ekonomi bangsa, merusak generasi bangsa, kenapa ini tidak kita usir?” katanya.

“Kita mulai dari Tapanuli Tengah, kita berbuat untuk bangsa, masa depan bangsa, anak-anak bangsa, kita mulai dari diri kita. Hari ini kita ultimatum kepala desa harus membuat peraturan desa dan lurah, kesepakatan masyarakat. Kalau ada masyarakat yang tidak mau, tanda tanya kita, kenapa dia tidak mau?, apakah dia bandarnya, atau dia pemakenya atau apa, apa alasannya?” ucapnya.

Untuk itu, menurut Bakhtiar, petugas perlu mengambil sikap tegas bila menemukan bandar narkoba.

“Kalau melawan minimal tembak kak, kalau saya ditanya? tembak ditempat bandar narkoba, kalau pengguna masih bisa direhap, kalau bandar uda menerima hasil, mana ada rehapnya lagi,” tegasnya. (dh/osi)

iklan usi



Back to top button