Berita

Badai, Petir dan Puting Beliung Terjang 5 Rumah: Atap Terbang Setinggi 12 Meter

TAPTENG, FaseBerita.ID – Angin puting beliung menerjang 5 rumah warga di Lingkungan IV, Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng).

Saprijal Caniago (42), salah seorang korban yang mengalami kerusakan terparah akibat musibah angin puting beliung itu menerangkan, peristiwa terjadi pada Selasa (19/3) sekira pukul 19.30 WIB.

Ia pun mengaku kaget karena angin kencang dan berputar-putar itu menerbangkan atap rumahnya. “Awalnya saya menduga hujan petir yang terjadi malam itu hanya badai biasa saja. Sekira jam setengah delapan, kami sedang makan. Awalnya, rumah ini agak bergetar rumah, terus keluarlah aku. Kulihat sudah terbang seng rumah,” ujar Saprijal saat disambangi di kediamannya, Rabu (20/3).

Saprijal juga menuturkan, saat peristiwa itu berlangsung, dia sempat menyaksikan atap rumahnya itu diterbangkan angin puting beliung yang diperkirakannya mencapai ketinggian 12 meter.

“Kulihat sudah diterbangkan, berputar-putar, ada setinggi 12 meter. Kemudian dibawa utuh sama reng-reng seng itu sekitar 300 meter ke sana,” tutur Saprijal sembari menujuk rumah warga lain yang mengalami kerusakan tidak terlalu parah akibat hempasan seng atap rumahnya.

Saat kejadian, lanjut Saprijal, karena kondisi cuaca saat itu juga tengah hujan lebat, air hujan pun turut membanjiri rumahnya pasca atapnya tidak ada. Bahkan plafon rumahnya ikut rusak.

“Ya banjirlah, dua rumah ini banjir karena sudah bolong,” kata Saprijal sembari menunjuk rumah tetangganya yang ditempati Haliman Caniago yang atap rumahnya juga ikut diterbangkan puting beliung.

Akibat musibah itu, sejak peristiwa itu berlangsung ia bersama keluarganya mengungsi ke rumah tetangganya. “Di tempat kakak yang di samping ini kami ngungsi, di sini nggak bisa,” katanya.

Hingga saat ini, pihaknya masih sibuk menjemuri pakaian dan beberapa barang yang terkena hujan akibat musibah yang menimpa.

“Kalau sekarang kami sedang menjemuri semua, ya seperti TV yang basah, nggak tahu rusak apa enggak, kayak yang dicurahkannya hujannya,” ucapnya.

Ia juga memperkirakan akibat musibah yang terjadi itu, kerugian yang dialaminya sekitar Rp15 Juta. Dan hingga kini, Saprijal mengaku masi bingung hendak melakukan apa atas musibah itu. APalagi sudah 3 pekan ia tidak ada panggilan untuk bekerja sebagi sopir tembak.

“Kalau perkiraan Rp15 juta, karena atasnya ini parah. Saya supir tembak ke Medan, kalau penghasilan nggak menentu,” tuturnya.

Atas Musibah itu, ia mengaku sangat sedih karena disaat kondisi pekerjaan kosong, musibah pun malah menimpanya. “Cuma kondisi seperti ini kita nggak berangkat datang pulaklah musibah sama kita. Sudah sekira 3 minggu nggak berangkat, namanya rejeki, ya begitulah nggak menentu,” katanya.

Pelajar di Sibolga Tak Sekolah

Akibat musibah puting beliung yang terjadi di Kelurahan Lubuk Tukko, dua pelajar di Kota Sibolga tidak dapat bersekolah.

Kedua pelajar itu yakni, Aprinal Juanda Caniago yang duduk kelas 2 SMK di Kota Sibolga yang merupakan anak dari Saprijal Caniago dan Yusril Mahendra Caniago, siswa kelas 3 SMK di Kota Sibolga yang merupakan anak dari Haliman Caniago. Mereka itu korban angin puting beliung.

Kedua pelajar ini tidak dapat bersekolah akibat seragam sekolah milik mereka basah kuyup setelah angin puting beliung menerbangkan atap rumah mereka sehingga air hujanpun langsung mengguyur seluruh isi rumah mereka.

“Ini Aprinal enggak bisa sekolah, pakaiannya sudah basah, adiknya Adrian Juanda pun begitu, kelas 6 SD di Pandan ini, basah pakaian sekolahnya,” ucap Saprijal.

Sementara Yusril Mahendra Caniago juga mengaku mengalami hal yang sama, ia tidak dapat bersekolah dikarenakan seragam sekolahnya basah kuyup semua pasca pitung beliung yang menimpa rumah mereka yang bertetangga denga rumah Aprinal. “Enggak, basah semua baju,” ucapnya singkat. (dh)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button