Berita

Asner Silalahi: Siantar Kota Satelit

SIANTAR, FaseBerita.ID – Perkembangan program nasional di Sumatera Utara (Sumut) memiliki posisi strategis untuk dikembangkan menjadi daerah hubungan internasional, yang selanjutnya akan ikut menggerakkan perekonomian di wilayah-wilayah lain di Pulau Sumatera. Berdasarkan pengamatan serta pengalaman Asner Silalahi, Kota Pematangsiantar sendiri sangat berpotensi sebagai kota satelit.

Asner yang merupakan bakal calon Walikota Pematangsiantar ini menjelaskan, dilihat dari jalur laut, posisi Sumut didukung dengan hadirnya pelabuhan bertaraf internasional.

“Sejauh ini kita masih mengenal Belawan menjadi pelabuhan bertaraf Internasional yang ada di Sumut. Namun saat ini, Sumut juga akan memiliki pelabuhan baru dan ditargetkan menjadi yang terbesar di Sumatera, yakni Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara,” jelasnya.

Begitu juga sektor udara, Sumut, katanya, juga telah memiliki bandara bertaraf Internasional, yakni Bandara Internasional Kualanamu (KNIA). Selain itu, Danau Toba yang mengelilingi tujuh kabupaten/ kota di Sumut juga menjadi salah satu penggerak ekonomi. Sebagai tempat wisata internasional, Danau Toba yang juga merupakan danau terbesar di Asia Tenggara mampu menarik wisatawan domestik maupun internasional untuk datang ke Sumut. Sumut juga memiliki daerah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terletak di Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun.

KEK Sei Mangkei sendiri ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2012, tanggal 27 Februari 2012 dan merupakan KEK pertama di Indonesia.

“Maka dapat kita tilik potensi besar ini dengan skema pembangunan nasional yang ada di wilayah Sumut, sangat terkait dengan Kota Pematangsiantar yang kita cintai ini,” katanya.

menurut Asner yang lahir dan besar di Pematangsiantar, semua yang dimiliki akan menjadi modal besar dalam pengembangan kota ini. Dengan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran dan menjadikan kota ini sebagai pusat perdagangan sesuai Rencana Jangka Panjang, maka Kota Pematangsiantar harus segera mengambil momen ini. Tidak ada istilah terlambat atau istilah Siantar Man-nya “dang acci ceng”.

“Kita harus tetap optimis pada kondisi saat ini. Kita tidak perlu muluk-muluk dengan mengacu pada pola perencanaan yang ada. Kita harus lebih pada implementatif pembangunan, dengan skema pembangunan nasional yang ada di wilayah Sumut,” tukasnya.

Bisa dicek bahwa Danau Toba sebagai destinasi Wisata Nasional dengan anggaran yang sudah dikucurkan Rp4-5 triliun, KEK Sei Mangkei yang sudah action, Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai hubungan internasional, PTPN II-IV, dan kegiatan lainnya di kota ini maupun di wilayah luar kota ini.

“Di Kota Pematangsiantar,  ada potensi terkait hal tersebut, yaitu lahan eks HGU seluas  sekitar 573 hektare yang akan menjadi mendukung mengakomodir kebutuhan tersebut,” ujarnya.

Tentunya, sambung Asner, jika memanfaatkan potensi eksternal tersebut akan memberi dampak kepada masyarakat Pematangsiantar. Di mana dalam implementasinya, kebutuhan properti, jasa perdagangan, transportasi, dan jasa lainnya akan dapat disiapkan. Tentu hal ini akan menjadikan Pematangsiantar memiliki daya tarik (magnet) yang kuat agar hal ini bisa terwujud.

“Salah satunya, menjadikan Kota Siantar dengan konsep Kota Satelit, kota yang berada di sekitar kegiatan besar, yakni KEK, Pelabuhan Kuala Tanjung, dan Danau Toba. Biasanya penghuni kota satelit ini adalah komuter dari kota besar atau melayani activity yang ada di sekitarnya. Pematangsiantar bisa tumbuh secara alami. Seperti Depok sebagai kota satelit Jakarta, atau sengaja dikembangkan seperti Bumi Serpong Damai di Tangerang, Lippo Cikarang, Lippo Karawaci, Jababeka di Cikarang, dan Sentul City di Bogor,” terangnya.

Masih menurut Asner yang memiliki pengalaman di birokrasi PUPR, kota satelit tumbuh pesat karena tingginya permintaan. Ledakan jumlah penduduk membuat kota terus berkembang.

“Kota yang sudah sesak membuat ketersediaan sarana dan prasarana menjadi kurang efisien, seperti transportasi boros energi karena kemacetan di mana-mana. Tata ruang kurang baik juga memperparah. Salah satunya banjir begitu turun hujan deras,” ujarnya.

Kota satelit, lanjutnya, khususnya yang sengaja dikembangkan memiliki keunggulan untuk memperbaiki situasi. Sebab pengembang memiliki kesempatan untuk memikirkan konsep kota yang akan dibangun. Kota akan berkembang dengan memperhatikan tingkat kenyamanan masyarakat di dalamnya, termasuk daya tampung maksimal dibatasi dengan banyaknya rumah atau perumahan yang disediakan.

Syarat pertama kenyamanan sebuah kota, katanya, adanya lahan terbuka hijau dengan luas ideal minimal 30 persen dari luas kota. Hal ini menjadikannya sebagai green property yang semakin diperlukan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan saat ini.

Ada beberapa prinsip untuk mengembangkan properti hijau dalam sebuah kota satelit. Dimulai dari properti dan fasilitas yang bisa beradaptasi menghadapi perubahan iklim, menyerap polutan, dan berefek menyejukkan. Kota satelit sebaiknya memiliki manajemen air, pengelolaan sampah, dan ketahanan pangan sendiri dengan adanya lahan landfill untuk pengelolaan sampah, pertanian kota, kebun sayuran, dan apotik hidup. Serta tidak melupakan sarana pendidikan, rekreasi, dan kesehatan.

Sarana pendidikan, katanya lagi, tidak hanya sekolah. Bisa berupa ruang pengenalan alam kepada anak dalam bentuk laboratorium hidup seperti potensi Kebun Binatang Siantar. Hal lain juga berbagai kegiatan rutin untuk menarik partisipasi masyarakat bisa diadakan. Mulai kompetisi atau pameran dengan konsep tertentu yang menonjolkan ciri khas kelokalan atau local potensi sehingga bisa menjadi daya tarik pariwisata hingga investasi.

Asner menambahkan, sarana transportasi massal ramah lingkungan, jalur sepeda, dan pejalan kaki bisa menjadi salah satu modal jualan dan menambah nilai ekonomi dari sebuah kota satelit dan properti di dalamnya. Kemudahan transportasi keluar seperti akses cepat ke jalan tol, bus, dan kereta komuter sering menjadi pertimbangan utama seseorang atau keluarga dalam memilih kota satelit sebagai tempat tinggalnya.

“Pada kota transit juga akan diskemakan formulasi penggunaan angkutan massal atau dikenal sebagai transit oriented development (TOD) agaknya mulai naik daun. Pengembangan kawasan TOD akan dilakukan melalui kawasan terpadu atau mixed used yang terletak di akses told an outer ring road,” jelasnya.

Konsep membangun kota satelit dengan membangun pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, pemukiman, hiburan, dan jasa lainnya di Pematangsiantar. Kemudian, meningkatkan akses stasiun kereta api cepat secara keseluruhan dalam mendukung kawasan pembangunan nasional yang ada di sekitar Kota Siantar.

Konsep Kota Satelit dengan pola TOD merupakan konsep yang mengintegrasikan penggunaan tata ruang guna mengakomodasi berbagai fungsi seperti kegiatan bekerja, berhuni, dan berekreasi dalam satu kawasan melalui optimalisasi aksesibilitas massal sehingga dapat menimalisir fenomena urban sprawl yang merupakan pemekaran kota ke daerah-daerah di sekitarnya yang tidak terstruktur, acak, dan tidak terencana.

“Untuk itu mari kita bangun Kota Siantar menjadi Kota Satelit, mendukung program nasional yang ada saat ini. Potensi yang ada saat ini dikembangkan, untuk memenuhi kebutuhan KEK, pelabuhan internasional, dan destinasi wisata Danau Toba. Siap menjadi daya tarik magnet. Kota Siantar akan menyiapkan kuliner, pemukiman, perbankan, hotel, hiburan, dan jasa perdagangan,” tukasnya. (rel)



Unefa

Pascasarjana
Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close