Berita

Aniaya Cewek dalam Angkot, Oknum PNS Dihajar Massa

FaseBerita.ID – Seorang Oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) asal Kota Padangsidimpuan, Selasa (4/8) siang, babak belur dihajar massa. Penyebabnya, Pria berusia 46 Tahun ini menganiaya seorang cewek dalam angkutan umum perkotaan (Angkot) saat perjalanan di Desa Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Informasi sementara, oknum PNS berinisial KA warga Jalan Teuku Umar, Kota Padangsidimpuan itu menaiki Angkot Lyn Psp-Batangtoru itu. Namun di tengah perjalanan, ia memukuli perempuan penumpang yang sama tanpa ada permasalahan sebelumnya.

Menyaksikan pemukulan itu, sang sopir pun menghentikan laju kendaraan dan berusaha melerai. Sopir pun menurunkan PNS berseragam warna merah maroon itu, dan menyorakinya. Massa yang berada di sekitar itu pun mengejar pelaku dan menahan serta memukuli hingga babak belur.

“Detail persoalannya belum dapat, karena itu diserahkan ke Polres Tapsel,” kata Kapolsek Batangtoru AKP Abdi Abdillah SH.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Tapsel AKP Paulus menuturkan, untuk saat ini pelaku sudah diamankan dan sedang dimintai keterangan. Pun demikian juga dengan korban yang tadi, terlihat masih kebingungan.

“Saat ini kita masih melakukan pemeriksaan, korbannya sedang di PPA (perlindungan perempuan Dan anak). Untuk itu (motif pemukulan) belum, masih kita tangani,” terangnya.

Pukul Korban karena Bilang Tidak Saling Kenal

Korban merupakan pelajar di salah satu Madarasah Aliyah Negeri Kota Padangsidimpuan. Selasa (4/8) siang itu, sekitar pukul 11.00 Wib, gadis remaja itu hendak pulang ke rumahnya disalah satu desa di Kecamatan Angkola Barat. Di tengah perjalanan di dalam Angkot, ia dibogem seorang Oknum PNS yang juga merupakan penumpang angkutan jurusan Psp-Batangtoru itu.

Dari PD, seorang saksi yang enggan namanya dicatat, awalnya pelaku berinisial KA itu bertanya kepada korban perihal apakah mereka saling mengenal. Pertanyaan itu berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Ditandai ho do au (Kamu kenal aku)?, nggak kenal kata Korban. Ditanya lagi sampai tiga kali. Terus dia buka masker, bertanya lagi apakah kenal. Enggak kenal kata si Korban. Langsung dibogemnya muka si Korban,” runutnya.

Pemumpang lain yang mengenal korban, karena merupakan anak seorang tokoh agama di Kecamatan itu, berteriak bersama supir hingga mengundang warga di Kelok Lima, Dusun Huta Tunggal, Desa Parsalakan untuk mengamankan pelaku.

Beberapa warga yang geram pun mengetahui anak perempuan itu dianiaya pun melayangkan pukulan, hingga pelaku babak belur sebelum akhirnya diserahkan ke Markas Polres Tapsel.

Diketahui, pelaku merupakan warga Kota Padangsidimpuan. Pelaku mengaku seorang guru dan berstatus PNS, berusia 46 tahun. Dan itu dibuktikannya dengan KTP yang sempat diamankan warga.

Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku, korban dan saksi. Dan kasus ini sementara ditangani Unit Perlindungan Perempuan Dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polres Tapanuli Selatan.

Pelaku Alami Gangguan Mental

Oknum PNS itu merupakan seorang guru di salah satu SMP Negeri. Selasa (4/8) kemarin, lajang berusia 46 tahun itu babak belur dihajar massa di Desa Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat lantaran membogem seorang pelajar yang tidak mengenalnya sama sekali.

Menurut AT (20) salah seorang keluarga, uwaknya yang diketahui berinisial KA itu mengalami gangguan mental, semenjak Tahun 2002 lalu sepeninggal orangtuanya.

KA tinggal bertiga bersama ibunya dan AT di Kota Padangsidimpuan. Kata AT, pada Uwaknya ini hendak ke Batangtoru bermaksud menjemput gaji sebagai guru. Dan selama ini memang sudah jarang masuk ke sekolah. Tapi dalam perjalanan ke Batangtoru itu, penyakitnya kambuh hingga memukul orang.

“Memang sudah lama ada sama dia kayak gitu, yang mengawasinya selama ini saya sama nenek. Tapi kemarin, memang kami tahu mau ke Batangtoru ambil gaji, tapi itulah jalannya sampai pukul orang,” cerita Agung.

Untuk saat ini, katanya, keluarga dia dan korban sudah bertemu dan melakukan perdamaian perihal kasus itu. Apalagi katanya, uwaknya itu sudah gangguan mental sejak lama. Dan tidak ada di sana pelecehan secara seksual sebagaimana informasi yang sempat beredar. (san)





Back to top button