Berita

Anak-anak Korban Asusila Butuh Pendampingan

FaseBerita.ID – Pasca belasan anak mengaku menjadi korban oknum guru dalam tindakan asusila (Sodomi) di SDN Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, para orangtua masih merasa bingung harus bagaimana untuk mengembalikan kondisi anak mereka sebagaimana mestinya, sediakala. Terlebih secara mental.

Senin (2/3) kemarin, sejumlah orangtua berkumpul di gedung sekolah. Bertemu dengan Pekerja Sosial, Perlindungan Anak dan Perempuan serta dua anggota DPRD Kota Padangsidimpuan, Iswandi Arisandi dan Muktar Shobri.

Kesepakatan sudah didapat, bahwa anak-anak yang menjadi korban ini nantinya akan didampingi oleh psikiater, agar nantinya dapat mengembalikan mental anak ini.

Ir, salah satu orangtua masih merasa bimbang. Anaknya yang baru kelas tiga SD itu mengaku jadi korban perlakuan oknum guru olahraga tersebut. Jika pun nanti proses hukum telah berjalan, akan tetapi anak ini akan terus trauma bahkan ke sekolah.

“Masih ada traumanya, karena kan kejadiannya di sekolah dalam kelas. Kalau pun nanti dipindah, akan jauh dari pantauan kami,” kata ayah tiga anak, yang rumahnya berada tepat di pinggir jalan masuk sekolah itu.

Pemerhati sosial Baun Aritonang yang turut bertemu dengan keluarga korban, mengungkapkan bila dalam kasus seperti ini Pemerintah Kota Padangsidimpuan harus berani mengambil sikap serius dalam menghadirkan pihak berkompeten baik pendamping dan penanganan khusus bagi korban termasuk trauma masyarakatnya. Alasannya, ini bisa jadi siklus yang terus berulang jika dibiarkan.

“Terlepas dari segala pendapat yang beredar, ini merupakan tanggung jawab besar pemko dalam menjamin hak hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan perlindungan hukum di wilayah NKRI,” katanya.

Katanya, tindakan hukum pelaku biarlah jadi dominan penegak hukum dari tingkat Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan. Namun, mengembalikan mental anak dan memberikan hak mereka adalah kewajiban bersama, khususnya Pemerintah Daerah.

“Menangkap serta menghukum pelaku memang wajib, tapi hendaknya ini merupakan evaluasi penting bagi kesinambungan dunia pendidikan di Kota ini. Namun kita harus tanggap pada efek dan resiko terhadap korban,” pungkas Baun.

Residivis Predator Anak, Dipenjara Nggak Sampai 4 Tahun

RBDT yang saat ini berusia 44 Tahun, dahulunya pada Tahun 2013 juga terjerat kasus asusila (sodomi) terhadap seorang anak kelas satu SMP. Kala itu ia masih berusia 36 tahun dan mengajar di salah satu SDN di bilangan Kelurahan Kantin, Kecamatan Padangsidimpuan Utara. Juga sebagai guru olahraga.

Korban di kasus ini juga merupakan murid RBDT yang pada saat kejahatannya itu bermula, masih siswa kelas VI di tempatnya mengajar. Dan itu secara berulang-ulang hingga korban telah duduk di bangku kelas satu SMP.

RBDT saat itu tidak mengakui perbuatan tersebut, namun menurut alat bukti berupa keterangan korban dan hasil visum yang menunjukkan adanya luka robek pada (maaf,red) dubur korban. Petugas Polres Kota Padangsidimpuan, telah menatapkannya pelaku sebagai tersangka.

Kasat Reskrim saat itu, AKP AA Siregar melalui KBO CJ Iptu Panjaitan (saat ini Kasat Res Narkoba berpangkat AKP) didampingi Kanit PPA Ipda Maria Marpaung (saat ini Kasubbag Humas berpangkat Iptu) mengatakan, pihaknya sudah menetapkan pelaku atas perbuatan cabul (Sodomi,red), RBDT sebagi tersangka atas dasar alat bukti berupa, keterangan langsung dari korban dan beberapa bukti petunjuk lainnya seperti satu potong celana olahraga warna biru dongker milik korban, satu potong celana dalam warna merah milik korban, satu potong kaos dalam warna putih milik korban, dan hasil visum dari rumah sakit yang menunjukkan adanya luka robek pada bagian dubur korban.

“Walaupun ia tidak mengakuinya, namun kami sudah menetapkan statusnya sebagai tersangka, berdasarkan keterangan korban dana alat bukti petunjuk yang menguatkan tentang kejadian itu, termasuk hasil visum yang tidak dapat direkayasa, yang menunjukkan adanya luka robek pada bagian dubur korban. Jadi terserah pelaku tidak mengakuinya, dan itu nantinya akan dapat dibuktikan di persidangan,” tukas Maria.

Lanjutnya lagi, atas perbuatan tersebut, tersangka dapat dikenakan pasal 82 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 Tahun penjara.

“Untuk kasus ini, dikarenakan korbannya msih dibawah umur, tersangka dapat kita jerat dengan pasal 82 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 Tahun penjara,” tuturnya seperti yang dirunut dari terbitan Tahun 2013.

Dilihat dari papan informasi guru SDN pimpinan Masitoh ini, tempat RBDT saat ini mengajar, RBDT tercatat masuk sebagai pendidik sejak 31 Oktober 2017. Sebagai PNS angkatan Tahun 2010. Artinya, hukuman penjara dalam kasus sebelumnya ini, RBDT hanya menjalaninya tidak lebih dari 4 Tahun.

Sampai saat ini, pelaku yang diketahui beralamat di salah satu kelurahan di Kecamatan Padangsidimpuan Utara ini, belum masih dalam pencarian oleh kepolisian dari Sat Reskrim Polres Kota Padangsidimpuan. (san/yza)

Melawan Virus Corona   Pascasarjana USI  
Tags

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close