Berita

Aksi Pasang Plang Ricuh di Sibolga, Dua Pihak Saling Klaim Tanah

FaseBerita.ID – Suasana di sebuah rumah mewah di Jalan SM Raja, Kelurahan Aek Manis, Sibolga Sambas, mendadak ramai, Rabu (25/3) siang. Itu setelah adanya orang yang mengklaim komplek rumah mewah itu merupakan tanah waris keluarganya dan memasang plang di lokasi.

Informasi dihimpun di lokasi, plang yang dipasang di depan rumah mewah itu adalah tanda kepemilikan oleh alih waris. Menurut Zimmi Saragi selaku kuasa ahli waris, bahwasanya tanah tempat berdirinya rumah mewah itu merupakan milik almarhum Mangitte Pasaribu yang telah dikuasakan kepadanya.

Hal itu berdasarkan surat kepemilikan yang beralas hak surat perjanjian tahun 1912 yang diketahui oleh Kepala Kampung Aek Habil, Akta Perdamaian Nomor:42/1963/perd/Sbg- yang dikeluarkan Pengadilan Negeri Sibolga pada hari Rabu 18 September 1963 dan surat keterangan ahli waris Nomor:470/08/Am yang dikeluarakan Lurah Aek manis dan diketahui oleh Camat Sibolga Selatan pada 25 Februari 2020.

Berdasarkan surat kepemilikan dari almahrum Mangette Pasaribu, bangunan yang berdiri megah di atas tanah yang mereka tempati itu bukanlah tanah pemilik bangunan megah tersebut, melainkan milik dari almahrum Mangitte Pasaribu yang telah diwariskan kepada Abdul Manan Pasaribu, almarhum Aman Pasaribu, almarhum Rapiah boru Pasaribu, almarhum Badiramin Pasaribu, hingga sampai kepada anak cucunya berdasarkan surat alih waris Nomor:470/08/AM 2020.

Aksi pemasangan plang tanda kepemilikan almahrum Mangite Pasaribu di depan rumah mewah berwarna putih tersebut sempat menimbulkan kericuan dengan pemilik rumah. Bahkan jalanan di lokasi Jalan SM Raja Kota Sibolga, sempat macet. Sehingga aparat kepolisian turut mengatur lalulintas yang macet.

“Tanah ini milik almarhum Mangite Pasaribu yang telah diperjualkan belikan oleh mantan oknum pejabat di Pemko berinisial ZL dengan cara menggandakan surat kepemilikan tanpa diketahui dari ahli waris,” ucapanya dengan nada keras.

Lanjutnya, luas lahan 340 meter persegi sebelumnya disewakan kepada pabrik kulit selama 30 tahun. Lalu tanpa diketahui keluarga Mangitte Pasaribu, tanah diperjualbelikan oleh ZL.

“Kami juga sudah pernah membicarakan ini secara kekeluargaan, namun penghuni rumah tidak merespon dengan baik,” kata Zimmi.

Masih katanya, berdasarkan surat yang telah dimiliki, mulai dari pembukaan lahan sampai hak kepemilikan, secara sah tanah adalah milik dari keluarga almarhum Mangitte Pasaribu.

“Sebagai ahli waris, tanah ini akan tetap kami perjuangkan sampai ke Pengadilan Negeri, bahkan sampai ke mana pun kami akan tetap menuntut hak kami yang telah dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, sangat diharapkan agar kiranya bangunan yang ada di atas tanah milik kami ini segera dikosongkan.”

Sementara itu Hadi Sitanggang, anak dari pemilik bangunan mewah tersebut saat dikonfirmasi wartawan mengatakan pihaknya tidak keberatan seandainya lahan yang mereka tempati digugat ke pengadilan. “Saya tidak merasa keberatan kalau mereka menggugat tanah ini ke Pengadilan Negeri, tapi jangan buat plang di depan rumah orang. Memang mereka siapa? Seenaknya memalang rumah orang,” tegas Hadi.

Lanjutnya, negara ini adalah negara hukum dan tidak boleh sesuka hari membuat plang di depan rumah orang. “Emang bisa begitu? Mereka punya surat, kita juga punya surat. Silahkan laporkan ke pengadilan, kita siap menerima panggilan,” jelasnya dengan nada tegas. (tam)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button