Berita

45 Warga Sidimpuan Kontak Berat dengan Pasien Status PDP Meninggal!

Tim Gugus: Mereka Kita Awasi Ketat!

FaseBerita.ID – Data yang dihimpun Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ada 45 orang yang kontak berat dengan pasien status PDP. Keseluruhan telah diawasi (pemantauan) dengan ketat oleh tim dalam beberapa hari ke depan.

“Iya, itu semua orang dekat almarhummah Pasien PDP. Kita awasi dengan ketat,” kata Sekretaris Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, H Ali Ibrahim Dalimunthe.

Ibrahim menyebutkan seluruh yang termasuk dalam kontak berat dengan pasien melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. “Isolasi mandiri yang terus dipantau tim kita,” paparnya.

Dari data Tim Gugus Tugas pukul 20.00 WIB, tanggal 4 April 2020. Ada 1.446 orang yang menjadi Pelaku Perjalanan di Kota Padangsidimpuan. Dari data Pelaku Perjalanan itu sebanyak 27 orang telah kembali ke daerah asal. Kemudian, 101 orang selesai observasi. Sehingga total yang menjadi observasi 1.318 orang.

Seterusnya, dari data observasi itu ada 1.313 orang ODP Sehat dan 4 orang ODP serta 1 orang PDP meninggal dunia. Dari PDP ini, ada 45 orang yang kontak berat. “Itulah data terbaru yang sudah keluar,” tambah Sekretaris Tim Gugus Tugas.

PDP Meninggal Dalam Perjalanan, Dimakamkan di TPU Muslim Simalingkar

Pasien staus PDP yang sempat diisolasi di RSUD Kota Padangsidimpuan meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUP H Adam Malik Medan, Sabtu (4/4).

Peta gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 Kota Padangsidimpuan

Pasien ini dirujuk dari Kota Padangsidimpuan atas dasar permintaan keluarga korban. Pasien diberangkatkan dari Psp sekitar pukul 23.45 WIB, Jumat (3/4).

“Iya betul. Informasi yang saya terima meninggal dalam perjalanan. Kalau tidak salah di sekitar Tebing Tinggi,” kata Ketua Gugugs Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Ir H Ali Ibrahim Dalimunthe.

Kadinkes, Sopian S Lubis SKM, menambahkan, petugas terus melanjutkan perjalanan sekalipun kondisinya seperti itu. “Tujuannya kan ke RSUP, terus dilanjutkan perjalanannya. Kalau pemakamannya kita masih koordinasi dengan Pemko Medan,” kata Sopian.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pemakaman pasien telah dilaksanakan di TPU Muslim Simalingkar sekitar pukul 15.00 WIB, Sabtu (4/4).

ODP yang Berkeliaran Berpotensi Menimbulkan Masalah Besar

Tim medis di RSUD Kota Padangsidimpuan menyampaikan keluhan usai menangani seorang pasien dalam pengawasan yang belakangan telah dirujuk ke RSUP Adam Malik, Kota Medan. Pasalnya kata mereka, ada keluarga yang telah menerobos masuk ruang isolasi sekaligus rawat inap pasien.

Dalam konfrensi pers, Jumat (3/4) malam, bersama para dokter, Kapolres Kota Padangsidimpuan, Dandim 0212/TS serta Danyonif 123/RW. Wali Kota Padangsidimpuan Irsan Efendi Nasution menuturkan, mereka merujuk pasien atas permintaan yang bersangkutan serta keluarga.

“Malam ini akan kita rujuk ke Rumah Sakit Adam Malik di Kota Medan. Ini menjadi keputusan Gugus Tugas, bersama-sama dokter di RSU Kota Padangsidimpuan. Kami ingin dokter dan gugus tugas menjelaskan apa yang telah dilakukan,” katanya mempersilakan para dokter yang sedianya ditunjuk untuk menangani PDP, dan Pasien Covid-19 atau positif terinfeksi virus corona.

Tentang PDP yang dirujuk ke Kota Medan, dr Nina menuturkan, pasien perempuan umur 30 tahun dan hamil 24 minggu itu datang ke rumah sakit pada 28 Maret lalu dengan keluhan demam tinggi.

Dan diketahui, perempuan yang punya toko di Pasar Sangkumpal Bonang dan Plaza Anugrah itu baru menjalani perjalanan dari Jakarta pertengahan Maret lalu.

“Keluhannya pada saat masuk, demam. Hanya demam tanpa batuk, tanpa pilek dan tanpa sesak. Karena pasien ditetapkan sebagai ODP, pasien kemudian diputuskan untuk dirontgen. Hasilnya pneumonia. Itu artinya ada infeksi pada paru,” kata Ketua IDI Kota Padangsidimpuan ini.

Dokter pun menganjurkan agar pasien itu isolasi diri di rumah secara mandiri. Lalu, pada 30 Maret, pasien datang lagi, untuk dilakukan rontgen kedua kalinya. Keluhannya tetap hanya demam, tanpa sesak. Dari hasil rontgen terdapat pemburukan pneumonia dari hasil rontgen pertama.

“Pada saat itu, pasien dianjurkan untuk dirujuk ke Medan karena statusnya sudah naik jadi PDP. Tapi pasien dan keluarga belum bersedia untuk dirujuk. Akhirnya, diputuskan untuk melanjutkan isolasi di rumah,” katanya.

Pada tanggal 31 Maret, pasien masih berhubungan dengan tim medis dan mengeluhkan sesak. Sudah dianjurkan untuk dirujuk lagi ke Medan, pasien dan keluarga tetap menolak. Pada Kamis 2 April kemarin, pasien mengeluh makin sesak. RSUD Kota Padangsidimpuan pun mempersiapkan ruang isolasi darurat, karena ruang isolasi yang direncanakan belum siap direnovasi.

“Dan pasien dijemput pada jam 10 malam, untuk dirawatinapkan di ruang isolasi. Sampai dengan hari ini (Jumat). Tadi pagi. Pasien itu masih mengeluh sesak, kemudian ada mencret. Kemudian hasil rontgen ulangnya, terjadi lebih banyak pemburukan pneumonia di kedua paru. Kemudian, saturasi oksigen itu pada saat ini 80 persen, normalnya 96-100 persen,” jelasnya.

Lantas, ia pun menyesalkan video pasien yang mengeluh di media sosial. Sebab kata Nina, tidak benar pasien tidak diperlakukan secara baik. Kesalnya lagi, keluarga pasien bahkan katanya, menerobos masuk ke dalam ruang isolasi.

“Sementara juga, keluarga pasien yang berkeliaran itu seharusnya sudah masuk ke dalam ODP yang seharusnya isolasi mandiri. Kemudian rumah sakit juga punya SOP sendiri, petugas yang masuk ke dalam ada jam jamnya. Dan kita bisa berhubungan lewat telepon,” ungkapnya merasa upaya yang telah dilakukan banyak pihak seperti sia-sia belaka, karena video itu.

Dokter lainnya, mengeluhkan hal yang sama. Ketidakterbukaan pasien dan keluarga, membuat jalanan penanganan terhambat. “Di mana dalam pengambilan foto kedua kali, petugas sudah standby di rumah pasien untuk penjemputan. Dan petugas membutuhkan 3 jam membujuk pasien agar bersedia,” katanya menekankan yang jadi keresahan mereka, yakni keluarga yang ditetapkan sebagai ODP masih berkeliaran dan berpotensi akan menimbulkan masalah besar.

“Tugas lagi, pekerjaan lagi bagi kami tim medis, nantinya yang ditujukan kepada Satgas penanganannya,” pungkasnya.

Dokter Rini dari laboratorium, menjelaskan, dari awal periksa pasien sudah mengalami anemia dengan jumlah sel darah putih yang normal dan trombosit yang normal. Setelah menerima rapid test dari Dinas Kesehatan.

Dokter melakukan pemeriksaan, yakni dengan hasil yang reaktif. “Dan tetap kami follow up dengan hasil anemia, yang anemia ini dan telah terjadi ketidakseimbangan elektrolit, elektrolit di badan,” jelasnya. (bsl/san)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button