Berita

4 Bersaudara di Simalungun Terjangkit Virus Difteri, 1 Meninggal

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Empat bersaudara di Kabupaten Simalungun terjangkit virus difteri. Satu di antaranya meninggal dunia setelah dirawat di RS Adam Malik Medan.

Keempat anak itu yakni Yehezkiel Pasiture Situmorang (6), Herdian Gumatar Situmorang (5) Rama Princes Situmorang (3) dan Mutiara Kasut Situmorang (2).

Sesuai data dihimpun, keempat anak itu, anak dari pasangan Frans Marganda Situmorang (39) dengan istrinya Evil Mariana Sianturi (35) warga Jalan Karet, Perdagangan III, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun.

Empat anak dalam satu keluarga itu menderita penyakit suspek Difteri. Sementara Herdian Gumatar Situmorang bahkan meninggal dunia meski sempat dirawat di rumah sakit.

Sedangkan tiga lagi, Yehezkiel Pasiture Situmorang, Rama Princes Situmorang dan Mutiara Kasut Situmorang masih dalam perawatan di Rumah Sakit Adam Malik Medan.

Elvina Pakpahan, salahsatu keluarga mengatakan, awalnya, Herdian Situmorang dan Yehezkiel Situmorang dilarikan keluarga ke Rumah Sakit Umum (RSU) Perdagangan karena mengalami demam tinggi.

“Minggu malam terasa sesak. Jadi Senin pagi jam 7 dibawa ke rumah sakit umum perdagangan. Kemudian dirujuk ke rumah sakit Adam Malik Medan,” ujarnya.

Sementara Plt Kadis Kesehatan Simalungun Edwin Simanjuntak saat dikonfirmasi via selulernya, Kamis (5/12) mengatakan, kondisi ketiga anak tersebut sudah semakin membaik.

“Ada satu meninggal dunia, bernama Herdian Gumatar Situmorang, Senin (2/12/2019) malam. Sementara tiga lagi masih dirawat di Rumah sakit Adam Malik Medan. Kondisinya sudah semakin membaik,” sebutnya.

Sebelumnya, Bupati Simalungun JR Saragih setelah mengetahui adanya kasus Difteri yang diderita empat warganya langsung turun melihat kondisi pasien di Rumah Sakit Umum Perdagangan.

Setelah melakukan koordinasi dengan meminta sejumlah keterangan dari dokter Rumah Sakit Perdagangan yang menangani satu keluarga itu, kemudian diambil kebijakan.

JR Saragih langsung merujuk korban ke rumah sakit Adam Malik Medan agar lebih baik penanganan dan pengobatan korban. Selain itu, JR Saragih juga mengatakan bahwa Pemkab Simalungun akan menanggung segala biaya pengobatan ketiga anak yang masih di rumah sakit itu hingga sembuh total.

“Kita langsung melihat ke Rumah Sakit, lalu mengutus Dinas Kesehatan untuk mendampingi korban ke rumah sakit Adam Malik untuk mengikuti perkembangan dan kita berkoordinasi terus baik ke dinas provinsi rumah sakit Adam Malik,” ucapnya.

Sambung, JR Saragih, pihaknya akan melakukan vaksin juga kepada anak-anak sekitar daerah pemukiman korban. Kemudian JR Saragih menginstruksikan supaya dilakukan sosialisasi kepada bidan-bidan desa.

“Nah, setelah itu kita nanti akan memberikan sosialisasi terutama kepada bidan-bidan desa agar melakukan vaksin khususnya bayi-bayi yang baru lahir agar dipantau terus bagaimana vaksinnya bisa berjalan dengan baik. Karena pemerintah sudah menyiapkan vaksin gratis,” pungkasnya.

Ini yang Harus Anda Ketahui

Vaksinasi difteri adalah vaksinasi yang diberikan untuk menekan risiko tertular penyakit difteri, yaitu suatu penyakit infeksi menular yang dapat menyebabkan sesak napas, pneumonia, kerusakan saraf, gangguan jantung, bahkan kematian. Penyakit ini bisa diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Vaksinasi difteri termasuk ke dalam daftar program nasional imunisasi dasar lengkap di Indonesia, dan direkomendasikan oleh Kementrian Kesehatan serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Vaksin difteri tersedia dalam bentuk kombinasi dengan vaksin penyakit lain, yaitu dengan tetanus dan batuk rejan (pertusis), atau dengan tetanus saja.

Terdapat 5 jenis vaksinasi difteri yang tersedia, yaitu: Vaksinasi DTP. Diberikan kepada anak-anak usia di bawah 7 tahun untuk mencegah difteri, tetanus, dan pertusis.

Vaksinasi DTaP. Sama dengan DTP, namun vaksin pertusis dimodifikasi sehingga diharapkan dapat mengurangi efek samping dari vaksin.

Vaksinasi DT. Diberikan kepada anak-anak usia di bawah 7 tahun untuk mencegah difteri dan tetanus.

Vaksinasi Tdap. Diberikan kepada anak-anak dan orang dewasa, usia 11-64 tahun, untuk mencegah tetanus, difteri, dan batuk rejan.

Vaksinasi Td. Diberikan kepada remaja dan dewasa untuk mencegah tetanus dan difteri. Vaksinasi ini disarankan untuk dilakukan sekali tiap 10 tahun.

Indikasi dan Kontraindikasi Vaksinasi Difteri

Seperti yang sudah disebutkan di atas, vaksinasi difteri dilakukan untuk mencegah penularan penyakit difteri dan menekan risiko terjadinya wabah difteri.

Informasikan kepada dokter sebelum menerima vaksin difteri, jika Anda atau anak Anda memiliki alergi terhadap komponen vaksin ini. Selain itu, vaksin difteri juga tidak diberikan pada seseorang yang menderita sindrom Guillain-Barre, kejang atau gangguan saraf lain, serta orang yang sedang sakit.

Dianjurkan untuk menunggu sampai sembuh dari sakit, baru melakukan vaksinasi difteri. Untuk wanita hamil atau menyusui, konsultasikan kepada dokter mengenai pemberian vaksin difteri saat hamil atau menyusui.

Vaksin Tdap boleh diberikan kepada wanita hamil atau menyusui untuk melindungi bayi dari pertusis, namun tetap dengan memperhatikan jadwal vaksin difteri, tetanus, dan pertusis sebelumnya.

Waktu Vaksinasi Difteri

Waktu vaksinasi difteri yang disarankan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) adalah: Pemberian vaksinasi difteri pertama, baik DTP ataupun DTaP diberikan pada usia 2 bulan atau paling cepat pada usia 6 minggu.

Selanjutnya untuk vaksin DTP diberikan pada usia 3 bulan dan 4 bulan. Sedangkan yang mendapat vaksin DTaP, untuk vaksin kedua dan ketiga diberikan pada usia 4 bulan dan 6 bulan.

Selanjutnya booster untuk vaksinasi difteri dapat diberikan pada usia 18 bulan dan usia 5 tahun.

Anak-anak yang sudah memasuki usia 7 tahun ke atas akan diberikan booster vaksinasi difteri dengan vaksin Tdap atau Td pada usia 10-12 tahun.

Booster selanjutnya diberikan pada usia 18 tahun dengan vaksin Td, dan vaksin Td ini dapat diulang setiap 10 tahun sekali.

Bagi yang terlewat dari jadwal, disarankan untuk segera melakukan vaksinasi kejaran dalam waktu dekat.

Disarankan juga bagi wanita hamil untuk mendapatkan vaksinasi Tdap booster saat trimester akhir, bila belum pernah sama sekali menerima vaksin Tdap atau tidak mengetahuinya.

Sebelum Vaksinasi Difteri

Umumnya, tidak ada persiapan khusus yang perlu dilakukan sebelum vaksinasi difteri. Namun, dapat dilakukan pemeriksaan alergi dan kondisi kesehatan penerima vaksin, untuk menghindari efek samping yang berbahaya.

Prosedur Vaksinasi Difteri

Prosedur vaksinasi difteri akan dilakukan melalui suntikan ke salah satu otot tubuh. Jika terdapat vaksinasi lainnya yang akan diberikan, dokter akan melakukan penyuntikan di titik otot yang berbeda.

Biasanya, dokter akan menyuntikkan vaksin difteri kepada anak-anak di otot paha. Untuk remaja dan orang dewasa, vaksin akan disuntikkan di lengan atas.

Disarankan untuk memastikan cairan vaksinasi dalam keadaan baik, yaitu berwarna putih atau keabu-abuan setelah dikocok. Jangan gunakan cairan vaksinasi yang sudah kedaluwarsa.

Sesudah Vaksinasi Difteri

Dalam kasus tertentu, penerima vaksinasi dapat mengalami pusing, penglihatan buram, telinga berdenging, hingga pingsan. Disarankan untuk duduk atau berbaring, setidaknya 15 menit setelah vaksinasi.

Bagi anak-anak, potensi mengalami demam atau pembengkakan dapat terjadi. Dokter umumnya akan memberikan obat penurun panas setelah vaksinasi dilakukan.

Meksipun jarang, beberapa penerima vaksinasi merasakan nyeri hebat di bagian bahu dan sulit menggerakannya, atau mengalami reaksi alergi dalam hitungan menit atau jam setelah vaksinasi. Segera temui dokter jika hal tersebut terjadi agar dapat segera ditangani.

Efek Samping Vaksinasi Difteri

Efek samping yang biasa dialami setelah menerima vaksin difteri, baik untuk anak, remaja, atau dewasa, biasanya tergolong ringan dan akan mereda dalam hitungan hari. Di antaranya meliputi: Nyeri, bengkak, atau kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik.     Demam. Sakit kepala. Nyeri otot. Lemas. Mual dan muntah. Diare. Nafsu makan menurun. Rewel (pada anak-anak).

Bila terjadi demam tinggi, bayi menangis selama lebih dari 3 jam, atau kejang, segera temui dokter. (Mag-05/des/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button