Berita

Penggelapan Dana Koperasi Swadarma BNI: Rugi Rp1 M, Korban Ingin Uangnya Kembali

SIANTAR, FaseBerita.ID – Mantan nasabah Koperasi Swadarma Bank Negara Indonesia (BNI) mendatangi Polres Pematangsiantar, Rabu (11/9/2019). Mereka menanyakan sejauh mana progress laporan pengaduan yang dilayangkan sejak tahun 2017.

Saat ditemui di Polres Pematangsiatnar, Susan (65) salah seorang korban penggelapan Koperasi Swadarma BNI menceritakan, ia menjadi nasabah berawal dari kedatangan pegawai BNI dan Koperasi Swadarma. Mereka merayu Susan agar menyimpan uangnya di koperasi dengan iming-iming bunga 1,5 persen.

Karena terus dirayu, Susan yang sehari-harinya berjualan mie mulai tergoda. Ia pun menyampaikan kepada keluarganya. Setelah berdiskusi, Susan dan keluarganya menyimpan uang Rp500 juta di koperasi tersebut.

“Uang kami kasih kepada pegawai BNI dan koperasi yang datang ke rumah. Setelah uang itu saya setor, saya hanya menerima dua kali bunga uang, yakni Rp7,5 juta per bulan. Sehingga yang saya terima hanya Rp15 juta,” ujar Susan yang tinggal di Jalan Prambanan Pematangsiantar ini.

Setelah dua bulan, Susan tidak lagi menerima bunga uang. Saat ditanyakan kepada pegawai koperasi, tidak ada respon. Hingga akhirnya kasus penggelapan uang di koperasi tersebut mencuat ke publik hingga berujung ke proses hukum.

“Padahal Rp500 juta itu uang keluarga. Saya meminta keadilan dan uang saya harus kembali,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Hotna Rumasi Sihombing. Menurutnya, mereka yang menjadi korban penipuan ada 67 orang dan kerugian mencapai Rp20 miliar.

“Ketika kasus ini bergulir, pihak BNI mengelak dengan mengatakan mereka tidak terlibat dalam koperasi tersebut. Padahal koperasi itu kan berkantor di BNI. Makanya kita minta juga kepada kepolisian maupun kejaksaan agar pihak BNI bertanggungjawab,” katanya.

Hotna menambahkan, dalam kasus ini sudah ada delapan nasabah yang melapor ke Polres Pematangsiantar di tahun 2017. Laporan diproses hingga akhirnya Rahmat dan Agus yang merupakan pengurus koperasi divonis hakim.

“Sebenarnya yang membuat laporan bukan hanya delapan orang, ada 16 lagi yang membuat laporan pada tahun yang sama. Tapi hanya laporan pertama yang masih diproses dan telah divonis hakim. Sementara laporan yang 16 orang masih tahap pemberkasan di Kejaksaan Negeri Siantar,” terangnya.

“Terlapor yang kami masukkan bukan hanya Rahmat dan Agus. Ada nama Fahrul Rizal yang saat itu Kepala Cabang BNI Siantar. Kemudian Sucipta selaku pengawas koperasi, dan Siti selaku bendahara. Tapi ketiga terlapor ini tidak dijadikan tersangka, hanya saksi,” ujar Hotna.

Hotna yang juga mengalami kerugian mencapai Rp500 juta ini mengaku sudah meminta bantuan kapada Hotman Paris Hutapea, pengacara kondang di Jakarta. Dan kasus ini telah dibawa ke BNI Pusat.

“Waktu kita bertemu dengan Direksi BNI, mereka pernah menyampaikan, apabila memang pihak pengadilan memutuskan BNI harus mengganti uang nasabah, maka pihak BNI siap melakukannya. Itu kata mereka. Makanya kita minta kepada kepolisian agar memroses laporan pengaduan kami,” katanya lagi.

Sebelumnya Agus Surya Darma dan Rahmat telah dijatuhi hukuman penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Pematangsiantar. Namun saat vonis dibacakan, hakim tidak ada memerintahkan BNI agar mengganti uang nasabah. (pra)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close