Berita

Kapal Bom Masih Marak: Ketua KNTM Sebut Kapal Beroperasi di Perairan Sibolga-Tapteng

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Diamankannya KM Cahaya Nauli oleh Satuan Polisi Airud Belawan Sumatera Utara mendapat sorotan dari para nelayan tradisional. Mereka menduga KM Cahaya Nauli bukan kapal ikan pengguna jaring Muroami atau Gurami (sebutan nelayan Sibolga-Tapteng), melainkan menggunakan bahan peledak alias bom.

Para nelayan juga meminta aparat penegak hukum tidak berhenti sampai di KM Cahaya Nauli saja. Karena kini, kapal bom masih marak di perairan Sibolga-Tapteng.

Seperti yang diungkapkan Ketua KNTM Sibolga-Tapteng Immat Lubis saat ditemui di kantornya di Sibustak-bustak, Sabtu (7/7/2019) lalu. Sekilas, dia menjelaskan kalau jaring Muroami sering dijadikan tameng oleh pemilik kapal bom.

Dengan berpura-pura membawa jaring di atas kapal, agar kapal bisa lewat dari pintu masuk perairan Sibolga-Tapteng.

“Jaring Muroami, dalam permen 71/2016, itu salah. Kadang itu hanya modus, katanya dia memakai jaring Gurami padahal pakai bom. Hanya modus jaring dibuat di kapal. Kapal yang ditangkap beberapa hari yang lalu bisa jadi kapal bom. Karena kebanyakan kapal yang memakai jaring Gurami adalah kapal bom. Sekarang ini marak kapal bom, sekitar 5 sampai 6 bulan terakhir ini,” kata Immat.

Dia memperkirakan ada puluhan kapal bom yang beroperasi saat ini di perairan Sibolga-Tapteng. Dan itu sangat mengganggu nelayan tradisional. Namun menurut Immat, hal yang paling dirugikan dalam pemakaian bahan peledak dalam menangkap ikan adalah rusaknya biota laut, yang merupakan warisan kepada anak cucu kelak.

“Ada mesin diesel dan ada yang speed boat GT 5, GT 6 dan GT 7. Kalau perkiraan lebih dari 10 kapal yang beroperasi. Kalau bagi nelayan tradisional, kapal bom sangat mengganggu, apalagi terhadap nelayan pancing. Juga terhadap kelestarian laut, biota laut dan terumbu karang, mati. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, itu sudah dilarang, pemakaian putasium, bom dan tuba. Apalagi sekarang,” ketusnya.

Ada beberapa modus yang dilakukan para nelayan kapal bom dalam beroperasi. Di antaranya, dengan menyamar sebagai nelayan tradisional hinggal bekerjasama dengan oknum petugas. “Artinya, dalam sindikat ini, ada keterlibatan petugas, paling tidak sebagai beking. Modusnya, ada yang menyerupai nelayan kecil, sehingga keluar masuk, bisa,” ungkap Immat.

Tak hanya itu, hal yang paling mengejutkan dikatakan tokoh nelayan yang dikenal vokal ini, beroperasinya kapal bom merupakan kelalaian petugas. Karena, dari informasi yang dia ketahui, tidak satupun kapal bom yang memiliki dokumen resmi. “Dan ini jelas kelalaian daripada petugas. Kapal yang keluar masuk di pintu masuk perairan Sibolga. Kalau ada mencurigai, tangkap. Kalau ada yang bongkar di tangkahan, memang kalau diperiksa, tidak ada barang bukti. Tapi, ikan hasil tangkapan mereka itu sudah bisa jadi barang bukti. Ciri-cirinya yang jelas, perut ikan atau bagian dalamnya itu pecah. Kalau izin, gak ada pakai izin mereka. Mereka berangkat tanpa dokumen.

Palinglah pas kecil. Kalau tercantum di situ alat tangkap, kalau jeli petugas, kalau katanya alat tangkapnya jaring, mana jaringnya. Kalau alat tangkapnya pancing, mana bukti pancingnya. Kalau pun ada ikannya, baik, belah ikannya. Kalau perutnya pecah, berarti kapal bom. Gak ada ceritanya, ikan hasil pancingan perutnya pecah,” pungkasnya sembari menyebutkan beberapa nama tangkahan yang punya kapal bom, dari mulai daerah Ancol hingga beberapa tangkahan di sepanjang Jalan KH Ahmad Dahlan.

Mewakili nelayan tradisonal Sibolga-Tapteng, Immat hanya berpesan kepada aparat terkait, bahwa laut merupakan sawah dan ladang masyarakat. Jadi, bila laut hancur akibat bom, maka secara otomatis, ekonomi masyarakat juga akan mati. “Harapan, tinggal harapan. Kadang, peraturan itu bagus dari atas, tapi di bawah itu yang rusak. Karena sawah ladang kami di Sibolga ini adalah laut. Tidak ada sawah, tidak ada ladang. Andaikan terumbu karang hancur, mau bagaimana Sibolga ini. Sudah sering saya bilang, tolong pak, tegakkan peraturan,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Polisi Airud Belawan Polda Sumut disebut-sebut mengamankan sebuah kapal penangkap ikan yang menggunakan jaring yang dilarang oleh pemerintah sesuai dengan Permen KP 02 tahun 2015 yang diubah menjadi Permen KP 71 tahun 2016, Rabu (3/7/2019) lalu.

Di kalangan nelayan, nama jaring ini disebut jaring gurame yang mampu menangkap ikan hingga ukuran yang paling kecil. Kapal bermerk KM Cahaya Nauli tersebut diamankan di pintu masuk perairan Sibolga, saat hendak sandar dan bongkar muat.

Awalnya, informasi yang beredar mengatakan bahwa kapal yang diamankan SatPol Airud Belawan tersebut merupakan kapal penangkap ikan yang menggunakan bahan peledak alias bom. Namun, dari hasil penelusuran wartawan dari salah seorang ABK KM Cahaya Nauli, menyebut kalau kapal yang mereka tumpangi menggunakan jaring gurame bukan bom seperti yang diisukan.

“Bukan kapal bom, jaring guramenya. Inilah selang untuk menyelam. Kalau bom, mana ada begini,” kata Tampubolon, salah seorang ABK yang ditemui di atas KM Cahaya Nauli, Kamis (4/7/2019).

Dia mengaku tidak tahu alasan Pol Airud mengamankan kapal mereka. Sebab, kapal mereka dilengkapi surat-surat, meski masa berlakunya telah habis. “Gak tahu kenapa ditangkap. Kalau surat-surat ada, lengkap. Tapi, mati,” ungkapnya.

Meski demikian menurut Tampubolon, pihak Pol Airud belum juga melepaskan mereka. Karena, hingga sore, ikan hasil tangkapan mereka belum juga diperbolehkan untuk dibongkar. Mereka takut, ikan dalam blong tersebut akan membusuk. “Belum dikasih bongkar. Ikan masih di fiber. Harus tambah es teruslah. Kalau nggak, bisa busuk,” tukasnya.

Tak hanya itu, nahkoda atau tekong kapal bermarga Duha pun katanya masih menjalani pemeriksaan oleh petugas.

“Tekong masih diperiksa. Gak tahu apa lagi yang ditanya,” pungkasnya.

Namun, saat wartawan mencoba mengkonfirmasi salah seorang petugas Pol Airud yang ada di atas kapal, membantah kalau kapal tersebut merupakan tangkapan mereka. “Siapa bilang tangkapan,” kata petugas tersebut sambil berlalu naik ke atas kapal patroli.

Dari informasi yang diperoleh, bukan hanya KM Cahaya Nauli yang masih menggunakan jaring terlarang. Masih banyak lagi kapal dengan jaring yang sejenis, yang diduga luput dari pengawasan pihak penegak hukum.

Diketahui, bahwa penggunaan jaring gurame dapat merusak populasi ikan. Mirip dengan jaring trawl, jaring gurame ini juga bisa menarik ikan-ikan kecil yang seharusnya belum layak untuk ditangkap.

Sistem operasinya, dengan cara menyelam dengan menggunakan selang dan oksigen. Setelah jaring ditebar di dasar laut, penyelam akan menggiring ikan dengan cara memukul-mukul sebuah besi yang sudah disiapkan agar ikan masuk ke dalam jaring. (ts)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close Ads