Berita

Tagih Uang Beli Tuak Rp22 Ribu, Jansen Nainggolan Malah Ditunjang dan Dipukuli

FaseBerita.ID – Penganiayaan terhadap Jansen Nainggolan yang berujung kematian, ternyata dipicu ketersinggungan Lambok Marpaung karena korban menagih uang yang seyogianya untuk membeli tuak yang ‘dilarikan’ Lambok.

Ceritanya, Minggu (3/3) dini hari, sebelum kejadian Jansen Nainggolan (60) dan Lambok Marpaung (24) sedang minum tuak di Ujung Majawa Nagori Muara Mulia, tepatnya di kedai tuak milik Boru Sinaga. Menjelang tengah malam, stok tuak di warung Boru Sinaga sudah habis. Jansen kemudian berinisiatif meminta Lambok untuk membeli tuak ke Dusun 3 Demak Rambe, Nagori Bosar Galugur, yang berjarak sekitar 800 meter dari lokasi minum tuak.

Namun ditunggu hingga satu jam, Lambok tak kunjung datang. Akhirnya dengan mengendarai sepedamotor, Jansen Nainggolan mendatangi Dusun Demak Rambe dan menemukan Lambok di warung kopi milik Imam Panjaitan(29) di Dusun Demak Rambe Nagori Bosar Galugur.

Lambok yang sehari-hari bekerja sebagai kernet langsir truk pengangkut sawit, diduga tersinggung saat diminta untuk menyerahkan uang untuk membeli dua galon tuak senilai Rp22 ribu. Warung kopi terbuka tersebut, saat itu hanya diisi oleh remaja yang masih berstatus pelajar.

Baca: Malam Minggu Maut di Muara Mulia: Dipukul dan Ditendang, Jansen Nainggolan Tewas

Saat Jansen meminta uang tersebut kepada Lambok, malah dijawab kasar oleh Lambok. Bukan hanya itu, Lambok langsung menyerang orangtua yang tinggal sendiri di rumahnya itu. Setelah terjatuh terkena tendangan, bagian dada Jansen sempat diinjak-injak oleh Lambok. Pria yang sering dipanggil Mandor tersebut, dianiaya Lambok disaksikan para remaja yang ada di warung.

Saat ditemui di rumah duka Dusun Ujung Majawa Nagori Muara Mulia, anak sulung Almarhum, Mak Putra Br Nainggolan menjelaskan, orangtuanya sudah sekitar 5 tahun tinggal sendiri di rumah setelah ibunya meninggal. Sedangkan anak-anaknya, dua putri dan satu putra merantau di luar daerah Simalungun.

“Saya tinggal di Porsea. Terkejut kami mendengar kabar kematian Bapak,” kata Mak Putra sambil menangis, Senin (4/3).

Dijelaskan Mak Putra, dua saudaranya belum tiba di rumah duka. Mereka sangat berharap pelaku dihukum berat.

Sementara Oppung Niar Br Sinaga, warga Muara Mulia yang sedang melayat di rumah duka mengatakan, pelaku Lambok Marpaung memang dikenal bertemperamen kasar.

“Dia sudah sering membuat susah orangtuanya dan istrinya,” kata Oppung Niar. (bis/esa)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close Ads