Berita

Menikmati Dua Malam Puncak Perayaan Tahun Baru Imlek di Taiwan

Malam hari ke-14 dan 15 setelah pergantian tahun pada penanggalan Tionghoa merupakan malam istimewa. Terutama yang berlangsung di dua kota sisi selatan Taiwan, Tainan dan Pingtung.

ANTON HADIYANTO, Taiwan

BAU wewangian khas kelenteng tercium kuat di jalanan Wumei Road sejak siang. Padahal, kelenteng terbesar di area tersebut, Wu Temple, masih berjarak sekitar 1,5 kilometer dari tempat parkir bus rombongan pengunjung. Itu menjadi penanda perayaan besar akan digelar di salah satu kelenteng penting di Taiwan Selatan tersebut.

Aroma perayaan semakin kuat saat berjalan kaki menuju kelenteng. Banyak pedagang musiman di sisi kiri dan kanan jalan. Mirip bazar di Indonesia. Barang yang dijual macam-macam. Ada makanan, minuman, peralatan rumah tangga, hingga cenderamata.

Yang berbeda, ada beberapa stan yang menyewakan perlengkapan keselamatan. Ada jaket tebal mirip yang dikenakan petugas pemadam kebakaran, helm, dan sepatu bot. “Perlengkapan untuk pengunjung yang ingin terjun langsung dalam perayaan,” ujar Nathan Men-An Liu, mahasiswa setempat yang menjadi pemandu wisatawan.

Nantinya, pakaian lengkap itu sangat berguna dalam arak-arakan. Rangkaian petasan disulut di jalan, kerap terlontar ke tubuh peserta. Begitu pula bagian kepala.

Tiap tahun, tepatnya hari ke-14 dan 15 setelah Tahun Baru Imlek, warga Tainan, Distrik Yanshui, menggelar perayaan Yanshui Beehive Firecracker di Wu Temple. Tainan adalah kota tertua yang dihuni bangsa Han di wilayah Taiwan. Tahun ini perayaan jatuh pada 18 dan 19 Februari.

Kelenteng dan warga sekitar membakar petasan dan kembang api di jalanan. Arak-arakan patung dewa dan leluhur dibawa berkeliling permukiman sekitar.

Lagi-lagi, bertumpuk-tumpuk atau bermeter-meter rangkaian petasan dan kembang api disulut sebagai simbol mengusir nasib buruk.

Pukul 17.00 waktu setempat atau dua jam sebelum perayaan dimulai, Wumei Road makin sesak oleh pengunjung. Sebagian besar sudah berdandan lengkap. Mengenakan helm, jaket, dan sepatu. Lengkap dengan masker pernapasan. “Untuk merasakan sensasi perayaannya, paling baik memang harus menjadi peserta keliling arak-arakan,” tutur Lilian Yi-eng, penjaga stan penyewaan perlengkapan.

Di pelataran kelenteng ada delapan kereta dorong yang berisi patung-patung kecil para dewa dan leluhur masyarakat sekitar. Selain itu, ada satu truk berukuran sedang yang membawa replika Dewa Guandi, dewa pelindung masyarakat Yanshui. Wu Temple memiliki nama lain Guandi Temple, kelenteng untuk memuja Dewa Guandi.

Ribuan orang mengelilingi truk dan kereta dorong tersebut. Sebagai awal perayaan, kembang api disulut di sekitar lokasi “berkumpulnya” para dewa itu.

Warga asli Distrik Yanshui berebut mendekati replika para dewa. “Bukan sekadar kemeriahan, mereka juga mencari berkah dari petasan dan kembang api yang dibakar,” ujar Lilian.

Perayaan dimulai setelah sembahyang di kelenteng. Pengumuman dan sirene dibunyikan, bersamaan dengan dibakarnya kembang api serta petasan yang dirangkai hingga puluhan meter. Sekitar lima menit, keriuhan baru berhenti. Asap petasan dan kembang api memenuhi langit Yanshui. Selanjutnya arak-arakan keliling kampung.

Ribuan orang dalam barisan tak teratur yang mengular itu bukan jumlah akhir lautan manusia pada perayaan tersebut. Di tiap persimpangan yang dilalui, rombongan kereta dorong bertambah. Tiap rumah dari keluarga yang mampu menyertakan gerobak lengkap dengan patung-patungnya. Jumlah peserta pun bertambah. Ribuan lagi. Sebab, jumlah persimpangannya juga puluhan.

Sepanjang jalan itu pula, penduduk juga menyalakan rentetan petasan. Belum habis di sisi kanan jalan, di sisi kiri ada yang menyalakan. Hampir begitu seterusnya.

Di beberapa persimpangan besar arak-arakan berhenti sejenak. Kembang api dan petasan lebih besar dan lebih panjang dinyalakan. Asap kembali pekat.

Perayaan makin meriah. Puluhan ribu orang berpartisipasi dalam arak-arakan itu. “Tahun lalu pemerintah kota mencatat ada lebih dari 40 ribu orang yang turut serta di hari pertama. Mungkin 100 ribu untuk dua hari perayaan,” kata Nathan.

Perjalanan arak-arakan tak kurang dari 4 kilometer. Jalur yang dilalui, menurut penduduk setempat, selalu sama sejak kali pertama perayaan digelar pada awal abad ke-19. Arak-arakan baru berakhir sekitar pukul 2 dini hari. Perayaan berlangsung dua hari tiap tahun dan menjadi atraksi wisata besar di Tainan, Yanshui.

Berkah nyata diraup penduduk sekitar yang menggelar dagangan di jalan dan area sekitar kelenteng. Belum lagi yang didapat usaha terkait lainnya. Sebab, yang datang ke sana bukan hanya penduduk Taiwan, tapi juga dari negara lain.

Tak kalah akbarnya festival lampion tahunan. Di Taiwan festival itu berpindah kota tahun demi tahun. Tahun ini atau tahun 2570 penanggalan Tionghoa berlangsung di Pingtung, Kaohsiung. Sekitar 70 km atau hanya satu jam perjalanan dari Tainan. “Kita beruntung, festival lampion tak jauh dari Tainan tahun ini,” ujar Edwin Chou, pendamping rombongan kami.

Nama resminya Pingtung Lantern Festival 2019. Festival berlangsung di lahan seluas 43 acre atau sekitar 18 hektare di Dapeng Bay. Lahan yang merupakan sirkuit balap mobil dan sepeda motor itu disulap menjadi arena pamer ribuan lampion berbagai tema dan ukuran.

Festival dibuka Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada 19 Februari atau malam ke-15 setelah tahun baru. Itu menunjukkan betapa penting dan besarnya agenda tahunan tersebut. Berbagai pertunjukan dan atraksi melengkapi pembukaan yang dihadiri puluhan ribu orang itu. Bukan hanya dari Taiwan, wisatawan dari berbagai negara juga ada di sana.

Edwin menyebutkan, warga Tiongkok daratan selalu berbondong-bondong ke Taiwan saat festival yang berlangsung dua pekan itu dihelat. Selain itu, pelancong dari Jepang, Hongkong, Singapura, Malaysia, dan bahkan Indonesia menunjukkan jumlah yang besar. “Makanya, selalu ada brosur dan petunjuk informasi dalam bahasa Indonesia di lokasi festival,” ucap Daniel Yin-en Lu, senior guide festival itu.

Tak salah juga jika pemerintah Taiwan turut mengklaim festival-festival lampion yang telah mereka selenggarakan sebagai yang terbesar di dunia. “Taiwan terdiri atas berbagai budaya. Festival ini mempersatukan seluruhnya dan kami mempersembahkannya untuk dunia,” ujar Presiden Ing-wen dalam sambutan pembukaannya.

Atraksi konfigurasi drone menjadi sajian pembukaan. Kembang api tak ketinggalan. Begitu pula aksi panggung penyanyi dan grup kondang Taiwan seperti Bobby Chen, Chang and Lee, dan AKB 48 TP. Juga ada penampilan grup sirkus Voala asal Spanyol dan Nanta Show dari Korea. “Kami mengumpulkan berbagai elemen untuk memberikan yang terbaik bagi dunia,” tutur Panbg Men-An, wali kota Pingtung.

Karena memasuki tahun babi, sebagian besar lampion menampilkan bentuk babi. Namun, lampion berukuran raksasa yang mereka unggulkan justru berbentuk ikan tuna. Lampion berputar yang dipasang di ujung dermaga itu menjadi simbol kemakmuran yang telah menyertai Taiwan.

Satu lagi adalah lampion Dewi Laut karya seniman kondang Taiwan Wang Wen-tzu. Bagian atas lampion dengan tinggi 15 meter itu dibuat dari pelat baja. Bentuknya seorang putri dengan gaun panjang menjuntai. Bahan gaunnya cukup istimewa. Dirangkai dari 300 ribu kulit kerang.

“(Lampion) ini menyimbolkan perlindungan. Perlindungan untuk Taiwan yang dihuni berbagai bangsa. Semua juga punya kewajiban mempertahankan Taiwan,” tutur Wen-tzu.

Semakin malam, pengunjung semakin banyak. Wali Kota Men-An memperkirakan 100 ribu pengunjung hadir di hari pembukaan. Mereka menargetkan 1 juta orang hingga event ditutup kemarin (3/3). “Festival ini berkah bagi kota ini. Mereka yang berkunjung tentu tak hanya ke festival, tapi juga ke tujuan wisata lain di Pingtung dan Kaohsiung,” jelas Men-An. (***)

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker