faseberita.id – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan pergerakan tajam saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Emiten yang terafiliasi dengan grup Bakrie ini mengalami koreksi signifikan pada perdagangan pagi hari Kamis (8/10/2026). Meski baru saja mengumumkan langkah ekspansi besar-besaran di kancah internasional, harga saham perusahaan minyak ini justru bergerak berlawanan arah dengan sentimen positif yang diharapkan.
Berdasarkan pantauan data pasar, saham ENRG terjun bebas sebesar 5 persen hingga menyentuh level Rp1.005 per lembar saham. Penurunan ini terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang cukup padat, di mana volume transaksi tercatat mencapai 46,94 juta lembar saham. Dengan frekuensi transaksi sebanyak 6.330 kali, nilai transaksi yang berputar di pasar mencapai angka Rp48,28 miliar. Sepanjang sesi perdagangan pagi, saham ini sempat bergerak fluktuatif di rentang harga Rp1.005 hingga Rp1.060.

Anjloknya harga saham ini tergolong ironis jika melihat kabar besar yang dirilis perusahaan sehari sebelumnya. ENRG baru saja mengumumkan kesepakatan strategis dengan HighPeak Energy, Inc., sebuah pemain utama dalam industri minyak dan gas yang berbasis di Amerika Serikat. Kerja sama ini melibatkan nilai investasi yang fantastis, yakni mencapai US$200 juta atau setara dengan Rp3,6 triliun.
Melalui keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), diketahui bahwa transaksi ini dilakukan melalui skema pembelian saham preferen konversi yang diterbitkan oleh HighPeak. Mekanisme ini memungkinkan ENRG untuk mengubah saham preferen tersebut menjadi saham biasa di HighPeak sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati bersama.
Langkah berani ENRG ini merupakan upaya untuk memperkuat portofolio aset mereka di luar negeri. HighPeak sendiri merupakan perusahaan migas yang bermarkas di Fort Worth, Texas, dengan spesialisasi pada eksplorasi dan pengembangan hidrokarbon di wilayah Midland Basin, West Texas. Performa HighPeak tergolong cukup solid, di mana pada semester pertama tahun 2026, perusahaan tersebut mampu mencatatkan rata-rata volume penjualan harian mencapai 45.456 barel setara minyak per hari (BOEPD).
Menanggapi dinamika pasar dan langkah ekspansi tersebut, pihak manajemen ENRG menegaskan bahwa strategi pertumbuhan perusahaan akan tetap konsisten pada dua jalur utama, yakni ekspansi organik dan anorganik. Perusahaan berkomitmen untuk terus memacu produksi dari aset yang sudah ada serta mengoptimalkan nilai dari seluruh operasional saat ini.
Di sisi lain, manajemen juga menyatakan akan tetap disiplin dalam mencari peluang akuisisi baru. Fokus pencarian peluang ini tidak hanya terbatas pada pasar domestik di Indonesia, tetapi juga merambah ke pasar internasional guna memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain energi yang kompetitif di level global. Kini, para investor tengah menunggu apakah koreksi harga saham ini merupakan aksi ambil untung jangka pendek atau sinyal lain terkait dampak dari beban investasi besar tersebut.







