faseberita.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan bulan Oktober ini. Setelah sempat mencicipi momentum penguatan yang cukup signifikan pada hari sebelumnya, nilai tukar rupiah justru kembali terperosok ke zona merah saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah sebesar 0,39 persen ke level Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Penurunan ini seolah membalikkan keadaan dari hari Rabu kemarin, di mana rupiah sempat menguat tajam 0,50 persen ke posisi Rp17.870 per dolar AS. Secara nominal, mata uang kebanggaan Indonesia ini kehilangan 70 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

Kondisi pelemahan rupiah ini tidak terjadi di ruang hampa. Pergerakan mata uang Garuda bergerak selaras dengan dominasi dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,23 persen ke level 101,678 pada pukul 15.00 WIB. Tingginya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar membuat ruang gerak mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi semakin sempit.
Dolar AS bahkan berhasil menyentuh level tertingginya dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan. Kekuatan dolar ini didorong oleh lonjakan imbal hasil US Treasury. Situasi geopolitik yang memanas, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran yang melibatkan Israel, memicu kekhawatiran akan adanya tekanan inflasi global yang lebih besar. Hal ini mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset dolar.
Meskipun data inflasi di Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi—yang sempat meredam spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober—pasar tetap bereaksi terhadap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke level 5,33 persen, angka tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 2002.
Di sisi domestik, pelaku pasar tengah menaruh perhatian besar pada rilis data inflasi Indonesia periode September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi bulanan pada September berada di angka 0,30 persen, sedikit meningkat dari 0,21 persen pada Agustus. Secara tahunan (year-on-year), inflasi naik menjadi 3,28 persen dari posisi 3,19 persen pada bulan sebelumnya.
Menariknya, meski inflasi umum mengalami kenaikan, inflasi inti justru menunjukkan tren melandai ke level 2,84 persen secara tahunan. Secara keseluruhan, inflasi tahunan Indonesia masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, yakni antara 1,5 persen hingga 3,5 persen. Namun sayangnya, stabilitas inflasi domestik ini nampaknya belum cukup kuat untuk membendung arus penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi global yang terus menekan nilai tukar rupiah.







