News  

Dolar Menggila Rupiah Terkapar Jelang Akhir Pekan

admin
Dolar Menggila Rupiah Terkapar Jelang Akhir Pekan

faseberita.id – Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan performa yang kurang menggembirakan di hadapan dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda terpaksa bertekuk lutut, mengakhiri hari dengan tekanan signifikan.

Data perdagangan menunjukkan, rupiah sempat membuka sesi dengan pelemahan di kisaran Rp17.570 per dolar AS. Tekanan kian terasa hingga mata uang lokal ini terperosok menyentuh level terlemah harian di Rp17.620 per dolar AS. Meski sempat bangkit tipis 35 poin dari titik terendah, rupiah akhirnya menutup perdagangan di angka Rp17.585 per dolar AS, mencatat depresiasi harian sekitar 0,31%. Namun, menariknya, di tengah tekanan harian ini, rupiah justru berhasil mengukir penguatan mingguan sekitar 0,26% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di Rp17.630 per dolar AS.

Dolar Menggila Rupiah Terkapar Jelang Akhir Pekan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pelemahan rupiah hari ini tak lepas dari keganasan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,05% mencapai 99,096 poin pada pukul 15.00 WIB. Dolar AS kini bertahan di level tertinggi dalam sepekan terakhir.

Berbagai faktor menjadi pendorong utama penguatan dolar AS. Salah satunya adalah meningkatnya kekhawatiran global terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Sentimen ini mendorong investor memburu aset-aset aman seperti dolar AS. Di sisi lain, data ekonomi Negeri Paman Sam juga menunjukkan sinyal positif, di mana indeks harga produsen AS dilaporkan naik 0,4% sepanjang Agustus. Kenaikan harga energi global turut menjadi pemicu utama melonjaknya tekanan harga di tingkat produsen.

Harga minyak dunia pun ikut melesat. Minyak mentah Brent di pasar Asia bahkan melesat 1,2%, menyentuh angka 108,96 dolar AS per barel, melanjutkan tren kenaikan setelah menembus batas 100 dolar AS di awal pekan. Tingginya harga energi ini sontak membuat pelaku pasar memperbesar peluang kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed pekan depan melonjak signifikan menjadi 71,3%, dari sebelumnya 61,2%. Perubahan ekspektasi ini turut mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury bertenor 10 tahun ikut terangkat 2,3 basis poin, mencapai 4,965%, semakin mendekati ambang batas 5%. Kenaikan imbal hasil obligasi AS ini dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus menghimpit mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kini, seluruh mata investor tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data ini menjadi barometer vital terakhir sebelum The Fed menggelar pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 15-16 September mendatang. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat semakin memperbesar peluang pengetatan moneter The Fed, mengerek dolar AS, dan menambah tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat meredakan spekulasi kenaikan suku bunga, sekaligus memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali perkasa.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *