faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil menutup pekan perdagangan 27 hingga 31 Juli 2026 dengan performa positif yang terbatas. Meskipun hanya naik tipis 064 persen dari pekan sebelumnya, penutupan di level 623612 menjadi sorotan di tengah dinamika pasar yang menarik. Angka ini melampaui posisi pekan sebelumnya yang berada di 619643.
Kenaikan IHSG ini juga diiringi dengan pertumbuhan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia BEI yang mencapai 048 persen. Total nilai kapitalisasi pasar kini bertengger di angka Rp10923 triliun dari Rp10870 triliun pada pekan lalu. Namun di balik kenaikan indeks ini aktivitas perdagangan harian justru menampilkan gambaran yang beragam.

Data BEI menunjukkan rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan terkoreksi tajam 2186 persen menjadi Rp1544 triliun dari Rp1976 triliun. Volume transaksi harian juga menyusut 3123 persen menjadi 3004 miliar lembar saham dari 4368 miliar lembar. Tidak hanya itu frekuensi transaksi harian turut anjlok 3188 persen menjadi 182 juta kali dari 267 juta kali pada pekan sebelumnya.
Investor asing juga terpantau mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp25058 miliar pada penutupan perdagangan Jumat 31 Juli 2026. Secara akumulatif sepanjang tahun 2026 investor asing telah membukukan nilai jual bersih yang fantastis mencapai Rp72987 triliun.
Lantas apa yang menjadi pendorong penguatan IHSG di tengah data transaksi yang melemah dan keluarnya dana asing Sentimen positif pasar ternyata banyak dipengaruhi oleh pergerakan bursa regional Asia yang mayoritas menguat. Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan pelaku pasar merespons rilis data ekonomi Amerika Serikat AS dan hasil pertemuan Politbiro Cina.
Data terbaru dari AS menunjukkan inflasi Personal Consumption Expenditures PCE pada Juni 2026 menunjukkan perlambatan menuju 37 persen secara tahunan. Sementara itu pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 negara adidaya tersebut juga tercatat melambat pada angka 15 persen year on year.
Kondisi ini memicu spekulasi di kalangan investor bahwa Bank Sentral AS The Fed akan menggeser prioritas dari penanganan inflasi ke upaya mitigasi perlambatan ekonomi. "Sehingga pasar berekspektasi bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan di bulan September 2026" ungkap Nico. Ekspektasi ini menjadi angin segar bagi pasar saham global termasuk IHSG.

