News  

S&P Global Tetap Percaya Ekonomi RI Ini Alasannya

admin
S&P Global Tetap Percaya Ekonomi RI Ini Alasannya

faseberita.id – Kabar baik datang dari panggung ekonomi global. Lembaga pemeringkat utang terkemuka, Standard & Poor’s Global Ratings, baru-baru ini kembali menegaskan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil. Ini adalah sinyal positif yang kuat bagi ketahanan perekonomian nasional di tengah dinamika global.

Keputusan S&P untuk mempertahankan proyeksi stabil ini didasari oleh optimisme terhadap perbaikan pendapatan pemerintah yang berkelanjutan. Selain itu, komitmen kuat pemerintah dalam menjaga defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi faktor penentu utama.

S&P Global Tetap Percaya Ekonomi RI Ini Alasannya
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Dalam analisisnya, S&P menyoroti beberapa keunggulan fundamental Indonesia. Prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, kebijakan makroekonomi yang terbukti bijaksana, serta beban utang luar negeri dan pemerintah yang relatif ringan dibandingkan dengan negara-negara sebanding, menjadi poin-poin pujian.

Meski demikian, S&P juga mencatat beberapa area yang perlu terus diperhatikan. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia yang masih moderat, basis ekspor dan pendapatan fiskal yang belum sepenuhnya terdiversifikasi, serta sektor keuangan domestik yang kurang mendalam, menjadi tantangan yang harus diatasi.

S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia akan terus tumbuh di kisaran 5 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan, bahkan di tengah fluktuasi harga minyak global. Pemerintah juga dinilai responsif terhadap masukan dari industri, seperti dalam isu pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), menunjukkan fleksibilitas dalam implementasi kebijakan. Hal ini membuat S&P tidak menjadikannya sebagai skenario dasar yang mengkhawatirkan.

Komitmen pemerintah untuk menjaga defisit APBN di bawah 3 persen PDB tetap tak tergoyahkan, kendati kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan pembayaran kompensasi dan subsidi bahan bakar. Langkah efisiensi juga terlihat dari rencana pemangkasan sekitar sepertiga anggaran awal program makan bergizi gratis melalui perubahan parameter, peningkatan efisiensi, dan pengawasan ketat.

Namun, tekanan pada pembayaran utang pemerintah tetap menjadi perhatian. Akumulasi utang yang lebih cepat selama pandemi, peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah, serta depresiasi nilai tukar rupiah, berkontribusi pada tantangan ini. S&P menekankan bahwa perbaikan rasio utang akan sangat bergantung pada pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan dan keberhasilan inisiatif pemerintah dalam memperluas basis penerimaan negara di masa mendatang.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *