faseberita.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini mengungkap data mengejutkan terkait kinerja keuangan negara sepanjang paruh pertama tahun 2026. Pundi-pundi negara berhasil mengumpulkan Rp 1.459,4 triliun, sebuah capaian impresif yang setara 46,3 persen dari target ambisius sebesar Rp 3.153,6 triliun. Angka ini menandai pertumbuhan signifikan yang patut dicermati.
Purbaya menjelaskan, perolehan kas negara tersebut melesat 21,4 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, 2025. Kenaikan ini menjadi sorotan utama dalam rapat bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan, Jakarta, pada Selasa 7 Juli 2026.

Kontributor terbesar bagi lonjakan pendapatan ini adalah sektor perpajakan, yang menyumbang Rp 1.187,8 triliun. Angka tersebut juga menunjukkan pertumbuhan 21,4 persen dibanding enam bulan pertama tahun 2025, dan telah mencapai 44,1 persen dari target pajak dalam APBN tahun ini. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tak kalah moncer, dengan realisasi Rp 271,0 triliun, menyentuh 59 persen dari target APBN dan tumbuh 21,6 persen.
Secara khusus, Purbaya menyoroti pertumbuhan pajak yang mencapai 24,6 persen dibandingkan tahun lalu. "Ini adalah perkembangan yang sangat menggembirakan, mengingat pada enam bulan pertama tahun lalu kita justru mengalami kontraksi sebesar 7 persen," ujarnya. Ia meyakini, serangkaian reformasi perpajakan dan penataan organisasi telah membuahkan hasil yang menjanjikan, sehingga kinerja penerimaan pajak diprediksi akan terus membaik.
Peningkatan kinerja pendapatan secara keseluruhan juga didorong oleh perluasan akses ekonomi, pengawasan yang lebih ketat, serta tata kelola pajak dan bea cukai yang semakin baik. Tak ketinggalan, peningkatan kualitas layanan dari berbagai kementerian, lembaga, dan badan layanan umum turut berkontribusi positif.
Di sisi lain, Purbaya turut melaporkan realisasi belanja negara. Hingga semester kedua, total belanja telah mencapai Rp 1.656,0 triliun. Angka ini menunjukkan penyerapan 43,1 persen dari pagu APBN dan tumbuh 17,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan data tersebut, defisit anggaran hingga Juni 2026 tercatat sebesar Rp 196,5 triliun, atau setara 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto. "Kondisi ini menegaskan bahwa defisit APBN tetap terjaga dalam batas aman dan terkendali," pungkas Purbaya, memberikan jaminan stabilitas fiskal.







