faseberita.id – Indonesia Investment Authority INA memilih jalan berbeda dalam menggalang dana investasi. CEO INA Oki Ramadhana menegaskan lembaganya belum berencana menerbitkan surat utang atau obligasi. Keputusan ini kontras dengan langkah Danantara yang telah lebih dulu meluncurkan obligasi untuk mendanai berbagai proyek.
Oki Ramadhana menjelaskan tidak ada instruksi khusus dari Presiden Prabowo Subianto agar INA mengikuti jejak Danantara. Ia meyakinkan publik bahwa modal yang dimiliki INA saat ini masih sangat mencukupi untuk berbagai agenda investasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan dengan awak media di Jakarta pada Rabu 1 Juli 2026.

Tahun ini INA telah menyiapkan sejumlah agenda investasi di berbagai sektor strategis. Bidang-bidang prioritas meliputi transportasi logistik dan infrastruktur digital energi hijau ekonomi biru kesehatan serta material canggih. Sektor-sektor ini diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian Oki belum dapat merinci bentuk maupun nilai investasi yang akan digelontorkan. Ia beralasan masih banyak diskusi intensif yang berlangsung dengan para calon investor. Kerahasiaan informasi menjadi prioritas utama terutama karena banyak di antaranya merupakan perusahaan tercatat yang memerlukan pengungkapan publik pada waktunya.
Sebagai perbandingan Danantara telah sukses meluncurkan Patriot Bond dan obligasi global. Surat utang mereka termasuk Patriot Bond dan Merah Putih Bond bahkan telah dilindungi payung hukum melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan UU P2SK.
Sejak didirikan pada 2020 INA sebagai Lembaga Pengelola Investasi Sovereign Wealth Fund telah mengucurkan dana investasi sebesar Rp 745 triliun atau setara 47 miliar dolar Amerika Serikat. Angka ini merupakan akumulasi dari investasi INA sendiri sebesar Rp 333 triliun dan penanaman modal asing senilai Rp 4132 triliun. Total dana kelolaan atau Asset Under Management INA saat ini mencapai Rp 1462 triliun.







