faseberita.id – Indonesia dikejutkan oleh data terbaru Badan Pusat Statistik BPS yang menunjukkan neraca perdagangan barang mengalami defisit signifikan pada Mei 2026. Ini adalah kali pertama setelah 72 bulan berturut-turut atau enam tahun penuh Indonesia menikmati surplus perdagangan. Defisit senilai 161 miliar dolar AS ini terutama dipicu oleh sektor migas.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers pada Rabu 1 Juli 2026 menjelaskan bahwa defisit pada Mei 2026 mencapai 376 miliar dolar AS khusus untuk komoditas migas. Angka ini menjadi pemicu utama ambruknya kinerja neraca perdagangan bulan lalu.

Kinerja ekspor nasional pada Mei 2026 merosot tajam. Total nilai ekspor tercatat 232 miliar dolar AS anjlok 573 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor migas menunjukkan penurunan paling drastis yakni 076 miliar dolar AS atau melorot 3176 persen secara tahunan. Sementara itu ekspor nonmigas juga tidak luput dari koreksi mencapai 2245 miliar dolar AS turun 45 persen.
Di sisi lain nilai impor justru melonjak drastis. Total impor pada Mei mencapai 2481 miliar dolar AS atau meroket 2216 persen dibandingkan Mei 2025. Peningkatan impor migas menjadi sorotan utama yang membengkak hingga 451 miliar dolar AS atau naik 7078 persen secara tahunan. Impor nonmigas juga bertumbuh 1489 persen mencapai 2030 miliar dolar AS.
Meskipun demikian secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2026 neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus 403 miliar dolar AS. Surplus ini disokong kuat oleh sektor nonmigas yang membukukan 1631 miliar dolar AS. Namun Ateng menambahkan bahwa sektor migas tetap menjadi beban dengan defisit kumulatif sebesar 1228 miliar dolar AS.







