News  
admin

Minyak $115/Barel: Gejolak Global dan Dampak ke Ekonomi RI

JAKARTA, faseberita.id – Harga minyak mentah global kembali menunjukkan lonjakan signifikan pada awal pekan ini, mencapai level US$ 115 per barel untuk jenis West Texas Intermediate (WTI). Kenaikan drastis ini, yang tercatat pada Senin siang, 9 Maret 2026, terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Angka ini menandai kenaikan satu hari terbesar sejak April 2020 dan membawa harga minyak ke titik tertinggi sejak Juni 2022, melanjutkan reli pekan sebelumnya sebesar 35,6 persen. Sebelumnya, harga minyak dunia sempat melonjak hingga 31 persen dalam perdagangan intraday.

Gangguan Pasokan dari Timur Tengah Memicu Kenaikan

Lonjakan harga ini tidak terlepas dari serangkaian gangguan pasokan yang melanda produsen-produsen utama di Timur Tengah. Salah satu pemicu utamanya adalah terganggunya jalur pengiriman energi vital di Selat Hormuz, sebuah koridor maritim krusial bagi distribusi minyak dunia. Setiap gangguan di selat ini secara langsung memengaruhi keseimbangan pasokan global.

Di Irak, produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan dilaporkan merosot tajam, anjlok sekitar 70 persen menjadi hanya 1,3 juta barel per hari dari sebelumnya 4,3 juta barel per hari sebelum konflik meletus, menurut data Trading Economics. Penurunan drastis ini langsung mempersempit ketersediaan pasokan di pasar global.

Gangguan serupa juga datang dari negara-negara produsen lain. Kuwait, anggota kunci Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), telah memangkas produksinya sejak Sabtu lalu dan mendeklarasikan kondisi force majeure. Sebelumnya, Qatar juga telah mengurangi produksi gas alam cair (LNG) pada pekan lalu, mengindikasikan tekanan pasokan yang lebih luas di kawasan tersebut.

Analis pasar turut mengkhawatirkan potensi penurunan produksi dari Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan laporan bahwa fasilitas penyimpanan minyak mereka mulai penuh, membatasi ruang untuk produksi tambahan.

Kekhawatiran Inflasi Global dan Respons Bank Sentral

Menanggapi situasi ini, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Armoro, mengungkapkan bahwa lonjakan harga energi berpotensi besar memicu kembali kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini secara otomatis mendorong sentimen risk-off di kalangan investor pasar keuangan.

Menurut Armoro, para investor kini mulai meninjau ulang ekspektasi terkait pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve AS. "Pasar saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat itu baru akan terjadi pada Juli dan Oktober 2026," jelasnya dalam keterangan tertulis pada Senin, 9 Maret 2026.

Selain dinamika harga energi, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini. Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) untuk Januari 2026 diperkirakan akan meningkat menjadi 2,9 persen secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan naik menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,4 persen.

Indonesia Siapkan Skenario, Anggaran Masih Aman

Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi gejolak harga minyak. Salah satu skenario yang dihitung adalah jika harga minyak dunia rata-rata mencapai US$ 92 per barel sepanjang tahun.

Apabila skenario US$ 92 per barel ini terjadi, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi melebar hingga lebih dari 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). "Kami sudah exercise kalau harganya US$ 92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya bisa mencapai sekitar 3,6 persen," ungkap Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.

Meski demikian, Purbaya optimistis pelebaran defisit tersebut masih dapat diantisipasi melalui penghematan pada sejumlah pos belanja yang dinilai tidak efisien.

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, harga minyak dunia biasanya berada di kisaran US$ 60 per barel. Pemerintah juga memiliki skenario lain jika harga naik hingga US$ 72 per barel, di mana kondisi fiskal dinilai masih relatif aman. Purbaya menambahkan, Indonesia pernah menghadapi situasi ekstrem ketika harga minyak dunia menembus US$ 150 per barel, yang kala itu menyebabkan perlambatan ekonomi namun tidak sampai memicu krisis.

Terkait kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Purbaya tidak menampik opsi tersebut jika lonjakan harga minyak terlalu tinggi dan membebani anggaran negara. Namun, ia menegaskan bahwa hingga saat ini, pemerintah belum membahas rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. "Sampai sekarang anggaran kita masih aman," pungkasnya.


Anastasya Lavenia Yudi berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *