News  
admin

Neraca Perdagangan RI 2025: Surplus US$ 41 M, Tumbuh Kuat!

faseberita.id – Kabar gembira datang dari sektor perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang tahun 2025 mencatatkan surplus signifikan sebesar US$ 41,05 miliar. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan penguatan fundamental ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Pencapaian ini menandai peningkatan substansial sebesar US$ 9,72 miliar dari surplus tahun 2024 yang tercatat US$ 31,04 miliar. Lebih mengesankan lagi, ini adalah bulan ke-68 berturut-turut Indonesia menikmati surplus neraca perdagangan, sebuah rekor yang dimulai sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di kantornya pada Selasa, 2 Februari 2026, menegaskan, "Dengan capaian ini, maka neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus selama 68 bulan berturut-turut."

Secara rinci, nilai ekspor Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$ 282,91 miliar, tumbuh 6,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara itu, nilai impor tercatat US$ 241,86 miliar, dengan kenaikan 2,83 persen dari tahun sebelumnya. Kesenjangan positif antara ekspor dan impor inilah yang menjadi tulang punggung surplus yang solid.

Meski demikian, surplus perdagangan pada Desember 2025 sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada bulan terakhir tahun 2025, neraca perdagangan mencapai US$ 2,51 miliar, sedikit menyusut dari surplus November yang tercatat US$ 2,66 miliar. Fluktuasi bulanan ini merupakan dinamika wajar dalam perdagangan internasional.

Kinerja positif neraca perdagangan ini didominasi oleh sektor non-migas, dengan komoditas seperti lemak dan minyak nabati menjadi penyumbang utama. Sebaliknya, neraca perdagangan sektor migas masih mencatatkan defisit, terutama akibat impor minyak mentah yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 18,11 miliar. Diikuti oleh India sebesar US$ 13,49 miliar dan Filipina dengan US$ 8,42 miliar, menunjukkan kuatnya hubungan dagang dengan negara-negara tersebut dan potensi pasar ekspor yang terus berkembang.

Namun, tidak semua mitra dagang memberikan kontribusi positif. Indonesia masih mencatat defisit terdalam dengan Tiongkok senilai US$ 20,50 miliar. Defisit juga terjadi dengan Australia sebesar US$ 5,65 miliar dan Singapura sebesar US$ 5,47 miliar, yang perlu menjadi perhatian dalam strategi perdagangan ke depan untuk menyeimbangkan kembali neraca dengan mitra-mitra utama ini.


Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *