News  

Pasar Saham Indonesia Terjun Bebas Hari Ini

admin
Pasar Saham Indonesia Terjun Bebas Hari Ini

faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa yang sangat memprihatinkan dalam perdagangan hari ini. Setelah sempat menunjukkan optimisme di awal sesi, indeks justru mengalami tekanan jual yang masif hingga merosot tajam ke zona merah. Hingga pukul 13.45 WIB, IHSG terpantau berada di level 4.942,31, sebuah penurunan drastis sebesar 154,52 poin atau setara dengan 3,03 persen.

Pergerakan pasar hari ini tergolong sangat fluktuatif dan penuh ketidakpastian. Pada pembukaan perdagangan, IHSG sebenarnya sempat menguat dan menyentuh level 5.126,53, bahkan sempat mencapai titik tertinggi harian di level 5.143,58. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Gelombang aksi jual yang kuat segera mendominasi pasar dan menyeret indeks turun hingga menyentuh titik terendah di level 4.941,53. Aktivitas transaksi di bursa terpantau cukup ramai dengan volume mencapai 150,37 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp5,97 triliun.

Pasar Saham Indonesia Terjun Bebas Hari Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penyebab utama anjloknya indeks hari ini bersumber dari performa buruk sejumlah sektor utama. Sektor material dasar menjadi yang paling terpukul dengan penurunan hingga 4,7 persen. Tak kalah parah, sektor properti juga ikut terseret turun sebesar 4 persen, disusul oleh sektor energi yang melemah 3,8 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang menjadi pemberat utama indeks antara lain adalah BBRI, ASII, BBCA, TLKM, dan BMRI. Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang mencoba memberikan perlawanan terhadap koreksi, seperti GOTO, MAPI, KLBF, dan CYBR.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang kompleks. Dari kancah internasional, perhatian investor tertuju pada pemilu sela di Amerika Serikat yang berlangsung hari ini. Ketidakpastian politik di AS, terutama terkait perebutan kendali Kongres antara Partai Republik dan Demokrat, menciptakan bayang-bayang risiko bagi pasar keuangan global.

Di sisi lain, terdapat kabar yang sedikit melegakan dari sektor komoditas. Harga minyak mentah dunia dilaporkan anjlok lebih dari 7 persen akibat meningkatnya harapan akan berakhirnya konflik antara AS-Israel dengan Iran. Penurunan harga minyak Brent dan WTI ini sebenarnya dapat menjadi angin segar bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, karena berpotensi mengurangi beban APBN dan menekan laju inflasi.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar tengah menantikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Publik sangat menantikan pernyataan resmi mengenai kondisi sistem keuangan Indonesia di kuartal III serta kebijakan strategis apa yang akan diambil untuk merespons gejolak pasar modal dan nilai tukar rupiah. Selain itu, data manufaktur dari China yang menunjukkan ekspansi meski melandai juga menjadi salah satu variabel yang diperhatikan investor dalam menentukan arah pergerakan pasar ke depan.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *